Wednesday, September 25, 2024

Membaca Relief Lalitavistara


Selamat datang di Borobudur, salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Kemegahan dan keindahan Borobudur mempunyai nilai sejarah tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai objek wisata utama, dan juga tujuan wisata prioritas bagi pengunjung nusantara maupun mancanegara.

Chandi Borobudur menarik antusiasme yang luar biasa untuk mengunjungi dan mendalami beberapa sumber narasi dalam wisata tematik, dengan tujuan untuk mengenal lebih dekat sejarah, arsitektur, dan seni rupa bangunan ini.

Pemandu wisata yang ramah akan menemani dalam kesempatan menarik ini, memberikan narasi dan penjelasan sebagai wujud apresiasi atas kajian dan partisipasi dalam menjaga, melindungi dan melestarikan warisan budaya leluhur.

Chandi Borobudur merupakan candi Buddha terbesar di dunia, kemegahan dan keunikan arsitektur serta keindahan seni rupa yang ditampilkan Borobudur terpampang pada dinding dan langkan yang sangat indah, serta mempunyai nilai seni yang tinggi.

Ukiran pada dinding utama Borobudur yang sangat bermakna bagi umat Buddha merupakan cerita tentang kehidupan Sidharta Gautama. Kisah ini sangat indah dan elok dalam budaya Buddha, merupakan kisah yang diambil dari naskah/teks Lalitavistara.

Lorong dinding relief

Keindahan seni ukir salah satu sisi dinding relif lorong Rupadhatu Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Relief Lalitavistara

Chandi Borobudur kaya akan cerita relief, terdapat 1.460 ukiran cerita dan 1.212 ukiran hias yang indah dan anggun. Yang menggambarkan nilai seni estetis budaya Buddha adalah cerita di dinding utama tentang riwayat hidup Sidharta Gautama yang diambil dari naskah/teks Lalitavistara.

Lalitavistara adalah cerita atau naskah tentang penggambaran riwayat Sidharta Gautama dalam rangkaian deretan relief (tetapi bukan riwayat lengkap), yang digambarkan dan diukir pada dinding Borobudur, dimulai dari turunnya Sang Buddha dari Surga Tushita, dan diakhiri dengan khotbah atau wejangan pertama di Taman Rusa (Taman Kijang) dekat kota Banaras.

Relief Lalitavistara berjumlah 120 panel relief berderet dari tangga pintu masuk utama sebelah timur dan untuk membaca relief ini para pengunjung berjalan melalui serangkaian lorong dinding utama dengan cara Pradaksina yaitu berjalan mengelilingi lorong searah jarum jam. Berjalan kearah selatan, panel relief pada lorong lantai 2 dinding utama Borobudur pada panel relief deretan atas cerita dimulai.

Lalitavistara Sutra itu sendiri ditulis sekitar abad pertama abad ketiga Masehi. Di dalam kitab ini terdapat beberapa aspek yang tua yang berasal dari legenda lisan, dan juga elemen-elemen yang telah berkembang belakangan yang tidak terdapat di versi riwayat Buddha yang lebih tua.

Kitab ini sangat terkenal bagi kalangan umat Buddha Mahayana dan Buddha Wajrayana, tetapi kurang begitu banyak diketahui bagi Buddhisme Therawada. Di antara semua seri panel relief yang ada di candi Borobudur, untuk identifikasi cerita panel relief tentang Lalitavistara adalah yang paling lengkap.

Beberapa panel-panel relief dalam kitab Lalitavistara dirangkum sebagai berikut:

Lalitavistara

Awal dari Kelahiran Terakhir Buddha

Panel relief pada dinding utama lorong kedua menceritakan masa ketika para Dewa di Sorga Tusita telah memberikan izin untuk mengabulkan keinginan Bodhisattva untuk turun ke dunia dan terlahir kembali menjadi Buddha, dengan tujuan untuk memberikan bimbingan dan petunjuk kepada umat manusia dan mengembalikan ke jalan yang benar. Dengan menjelma menjadi manusia bernama Buddha Gautama, Sidharta.

Di istana kerajaan Kapilawastu, Raja Sudhodana dan Ratu Maya sedang berbincang mendalam mengenai keinginan mereka untuk memiliki dan mempunyai seorang putra. Keinginan tersebut membuat mereka berdua bermeditasi, untuk memiliki keturunan.

Pada saat itu disebutkan, di istana kerajaan, Dewi Maya, permaisuri Sudhodana, Raja Kapilavastu, bermimpi melihat seekor gajah putih bergading enam, lalu menyusup ke tubuh Ratu Maya. Gajah putih dalam mimpi turun dari surga Tusita dengan menunggangi bunga teratai, yang tidak lain adalah Bodhisattva sendiri. Pada saat yang sama, para dewa mengungkapkan rasa hormat yang mendalam dengan memujanya.

Kemudian karena kejadian mimpi yang belum bisa diartikan, timbullah keinginan Dewi Maya untuk menceritakan kepada Raja Sudhodana tentang mimpinya, tentang apa arti mimpinya. Begitu pula dengan Raja Sudhodana, setelah memikirkan dan merenungi mimpi tersebut, akhirnya ia memutuskan untuk menanyakan arti mimpi tersebut kepada orang bijak, orang yang berakal budi, yaitu seorang Brahma yang bernama Asita.

Dijelaskan pada kesempatan tersebut bahwa Dewi Maya permaisuri, akan mendapatkan anugerah yaitu sedang mengandung anak calon raja dunia. Didalam hati Dewi Maya sangat gembira tetapi keinginan agar kelak putranya menjadi seorang bijak atau Brahma belum didapatkan.

Akan sangat berbeda penjelasan Brahma yang membuat perasaan hati Raja Sudhodana merasa sangat bergembira, karena untuk waktu yang cukup lama Raja Sudhodana mendambakan putra, yang kelak akan menjadi pewaris tahta kerajaan raja selanjutnya.

Hal yang menggembirakan ini disambut dengan gembira oleh Raja Sudhodana dan kemudian dilakukan dengan cara berbagi yaitu memberikan hasidah kepada Asita dan Brahmana lainnya. Atas kejadian tersebut, para Dewa kemudian mempersembahkan surga kepada Dewi Maya.

Dalam perjalanan mengandung putra raja, dalam kehidupan di istana banyak ditemui keajaiban. Salah satunya oleh para Dewa, Dewi Maya diperlihatkan tiga istana atau tiga tempat sekaligus, ketiga istana itu mempunyai tujuan untuk menggambarkan tentang ajaran Trikaya, yaitu ajaran Dharmakaya, Sambhogakaya dan Nirmanakaya.

Sebelum waktu akan datangnya kelahiran Buddha, di dalam istana Dewi Maya mampu melakukan berbagai keajaiban, sesuatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang disekitar istana yaitu di antaranya mampu mengobati orang sakit dan orang cacat. Suatu keajaiban juga terjadi didalam istana, ketika pada saat singa dan gajah yang berada di luar istana menyembah Raja Sudhodana.

Ketika menjelang kelahiran, persiapan di dalam istana dimana Dewi Maya menuju dengan melakukan perjalanan untuk melahirkan Bodhisatwa. Dewi Maya memberikan kelahiran dengan posisi berdiri dan memegang dahan pohon yang berada di Taman Lumbini. 

Pada saat Bodhisatwa lahir, terdapat dua arus air yang turun dari langit, arus air yang satu dingin dan arus air lainnya hangat. Arus tersebut kemudian mengguyur membasahi tubuh Sidharta. Pada saat itu dalam keadaan Sidharta lahir bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung melangkah ke arah utara. Tempat dimana dirinya berdiri, ditumbuhi bunga teratai.

Seminggu setelah kelahiran tersebut, diceritakan permaisuri Dewi Maya meninggal dunia.

Masa Kecil dan Remaja Sidharta

Asita meramalkan lagi bahwa kelak Pangeran Sidharta akan menjadi orang suci yaitu Buddha. Dengan ramalan tersebut membuat pikiran raja Sudhodana menjadi sangat cemas akan kekhawatirannya adalah jika putranya tumbuh besar maka akan menjadi Buddha. Hal ini membuat kerajaan Kapilavastu tidak mempunyai raja dan tidak ada yang mewarisinya.

Oleh sebab itu para pertapa menyarankan, kepada raja Sudhodana agar pangeran Sidharta harus dijauhkan dari empat peristiwa tentang kehidupan. Bila tidak, kehidupan yang akan dijalani membuat dia menjadi seorang pertapa atau orang suci Buddha.

Dari masa kecil Pangeran sudah menunjukkan hal yang berbeda dengan anak yang lain yaitu tumbuh sebagai anak yang cerdas dan pandai. Pada saat mencapai usia tujuh tahun, pangeran tertarik untuk mempelajari tentang ilmu pengetahuan. Diceritakan, bahwa wajah pangeran dipenuhi dengan sinar terang, sehingga pada saat pertama kali masuk sekolah membuat sang guru pingsan, karena melihat wajah pangeran yang bersinar.

Pada usia 16 tahun, tibalah waktunya bagi Sidharta untuk mendapatkan jodoh, memberikan cincin, menikah dengan memilih Puteri Yasodhara, yang dipersunting setelah Sidharta berhasil memenangkan beberapa sayembara. Kemudian atas kemenangan tersebut mendapatkan kehormatan diberikan tiga istana yang megah dan khusus, yaitu Istana musim dingin (Ramma), Istana musim panas (Suramma) dan Istana musim hujan (Subha).

Hal ini dilakukan oleh ayahnya, Sudhodana berhubungan dengan perkataan dan saran dari pertapa agar putranya itu tidak diperbolehkan melihat empat peristiwa tentang kehidupan.

Empat Pertemuan dan Pelepasan Agung Sidharta


Setelah beberapa saat lamanya, kehidupan Sidharta sebagai seorang putra raja, berada di tiga istana yang megah dan lengkap dengan segala sesuatu dapat terpenuhi. Sidharta mendapatkan segala kemewahan seperti makanan, minuman, pakaian, pelayan yang setia dan selalu di jaga oleh pengawal kerajaan, akan tetapi tidaklah membuat kehidupannya lebih baik dikarenakan perasaan bosan karena selalu berada di istana. Oleh sebab itu terbersik dipikirannya untuk bisa melihat keadaan di luar istana.

Suatu hari Bodhisatwa mempunyai keinginan untuk melihat keluar istana, sehingga meminta izin untuk berjalan di luar istana. Di luar istana kehidupan sangat berbeda, dengan beberapa pengawal kerajaan dimana pada kesempatan ditemui diluar istana tersebut, dilihatnya empat kondisi kehidupan yang sangat berarti dan nyata, yaitu: Orang tua, Orang sakit, Orang mati dan Orang suci.

Melihat hal tersebut, tersirat dalam pikirannya didalam hati bahwa sebenarnya perasaan Sidharta sangat bersedih. Sesaat dalam perenungan keinginan untuk mengetahui hingga membuatnya menanyakan dalam hati pada dirinya sendiri tentang apa arti kehidupan ini. Dirinya berpikir, bahwa pertemuan dengan orang suci adalah tentang kehidupan suci yang akan menjawab sebenarnya apa arti hidup.

Didalam kehidupannya, pemikiran dan perenungan tentang empat kehidupan yang dilihatnya telah mengantarkan dalam kehidupannya selama 10 tahun bahwa dirinya hidup dalam berbagai macam bentuk kehidupan duniawi. Pergolakkan hati yang dialami Sidharta berjalan terus sehingga pada satu ketika saat berusia 29 tahun, dan itu tepat bersamaan dengan kelahiran anak pertamanya.

Pada suatu malam, keinginannya untuk keluar dari istana mendapatkan kesempatan dirinya, Bodhisatwa memutuskan untuk keluar meninggalkan istana. Pengawal pembawa kuda mengantarkan dirinya membantu Sidharta, dirinya akan bertekad bulat untuk mencari dan melakukan pelepasan yang agung dan hidup sebagai seorang pertapa.

Bodhisatwa dalam keadaan merasa tubuhnya sangat lemas dan maut hampir merenggut jiwanya. Namun, karena dengan keinginan dan tekad yang sekuat baja akhirnya Bodhisatwa melajutkan pertapaannya di bawah pohon Bodhi.

"Meskipun dagingku busuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Sampai aku mencapai pencerahan sempurna".

Diceritakan juga dengan berbagai tipu daya yaitu upaya Dewi Mara untuk menghentikan dan menggagalkan pertapaannya. Namun dengan segala daya upaya Bodhisatwa, datanglah keajaiban dan semua mara bahaya yang muncul untuk menggagalkan pertapaannya, dapat disingkirkan dengan mengubah setiap godaan menjadi bunga.

Dan saat itu, tibalah saatnya bagi Bodhisatwa untuk mencapai pencerahan sempurna. Bodhisatwa akan menerima kebijaksanaan tertinggi yang membimbing keselamatan terakhir dan telah menjadi Budha tepat saat bulan purnama tahun 531 SM Hari ke delapan bulan ke 12.

Pada saat mencapai pencerahan sempurna, terlihat dalam tubuhnya memancarkan sinar. Sinar yang berwarna biru mempunyai arti bakti, warna kuning artinya tentang kebijaksanaan dan pengetahuan, warna merah yang artinya kasih sayang dan belas kasih, sedangkan putih itu berarti suci.

Setelah Bodhisatwa menerima pencerahan yang sempurna, dengan santun Bodhisatwa menemui kelima temannya yang dahulu pernah menemaninya dan mengangkat mereka menjadi murid-murid pertamanya. Dan diceritakan pada kesempatan yang berbahagia, kelima murid itulah yang untuk pertama kalinya mendengarkan khotbah wejangan Buddha, yaitu ajaran penyelamatan.

Lalitavistara
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.

Berwisata dan berkunjung dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik dan menjelajahi Borobudur sebagai bangunan suci Budha adalah sesuatu yang sangat istimewa, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, adalah suatu bentuk apresiasi dan turut serta dalam melestarikan dan melindungi Borobudur yang merupakan situs warisan budaya dunia, Chandi Borobudur merupakan monumen terbesar di dunia.

Relief Cerita Borobudur
Salah satu relif dinding kaki candi teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.

Menjelaskan bahwa 'Upanat' adalah alas kaki yang digunakan ketika mengunjungi teras Candi Borobudur. Kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti tur tematik serta mengagumi kemegahan dan seni rupa monumen ini. Hal ini sebagai bentuk apresiasi dan mengenal Borobudur, serta berperan dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia di Borobudur, Indonesia.

Selamat datang, senang dengan perjalanan mengunjungi kemegahan chandi Borobudur, yang merupakan salah satu situs warisan budaya dunia dan sebagai destinasi wisata budaya di Indonesia. Keramahan pemandu wisata, akan mengantar dan memberikan narasi dalam mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur dalam panduan wisata sejarah Borobudur.

Chandi Borobudur
Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.
Chandi Borobudur or Barabudur
is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Lalitawistara

Lalitavistara Sutra merupakan kisah tentang penggambaran riwayat hidup Sidharta Gautama ang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari surge Tushita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. 6Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda. Lalitavistara Sutra itu sendiri ditulis sekitar abad pertama sampai abad ketiga Masehi. Di dalam kitab ini terdapat beberapa aspek yang tua yang berasal dari legenda lisan, dan juga elemen-elemen yang berkembang belakangan yang tidak terdapat di versi riwayat Buddha yang lebih tua. Kitab ini sangat terkenal di kalangan Buddhis Mahayana dan Wajrayana, tetapi tidak diketahui Buddhisme Therawada. Di antara semua seri relief Borobudur, identifikasi relief Lalitavistara adalah yang paling lengkap.

arisguide
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.


No comments:

Post a Comment

Relief Story of Lalitavistara

W elcome  to  Borobudur, one of the sacred buildings of Buddhism as a World Cultural Heritage site. The splendor and beauty of Borobudur has...