Wednesday, April 27, 2022

LALITAVISTARA

LALITAVISTARA CERITA SIDHARTA



Relief

Pada dinding-dinding candi di setiap tingkatan, kecuali pada teras – teras lingkaran, Arupadhatu dipahatkan panel – panel bas – relief yang dibuat dengan sangat teliti dan halus. Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia Buddha.

Relief cerita adalah sebuah transfer naskah cerita ke dalam suatu bentuk seni yang konkrit. Karena hal ini dimaksudkan sebagai penggambaran sebuah cerita, maka di dalam relief terdapat susunan bentuk - bentuk tertentu oleh si seniman sedapat mungkin diusahakan mencerminkan keadaan dan peristiwa yang terjadi di dalam cerita yang bersangkutan. Oleh karena itu di dalam relief, munculnya sosok tubuh tokoh - tokoh yang disebut dalam cerita beserta bentuk - bentuk tertentu (rumah, pohon, sungai, dan sebagainya) adalah sebagai petunjuk tentang situasi dan kondisi tempat dimana terjadinya sebuah peristiwa adalah yang diharapkan.

Relief Borobudur juga menerapkan disiplin seni rupa India, seperti berbagai sikap tubuh yang memiliki makna atau nilai estetis tertentu. Relief-relief berwujud manusia mulia seperti pertapa, raja dan wanita bangsawan, bidadari ataupun makhluk yang mencapai derajat kesucian laksana dewa, seperti tara dan boddhisatwa, seringkali digambarkan dengan posisi tubuh tribhanga. Posisi tubuh ini disebut "lekuk tiga" yaitu melekuk atau sedikit condong pada bagian leher, pinggul, dan pergelangan kaki dengan beban tubuh hanya bertumpu pada satu kaki, sementara kaki yang lainnya dilekuk beristirahat. Posisi tubuh yang luwes ini menyiratkan keanggunan, misalnya figur bidadari Surasundari yang berdiri dengan sikap tubuh tribhanga sambil menggenggam teratai bertangkai panjang.

Borobudur menampilkan banyak gambar; seperti sosok manusia baik bangsawan, rakyat jelata, atau pertapa, aneka tumbuhan dan hewan, serta menampilkan bentuk bangunan vernakular tradisional Nusantara. Borobudur tak ubahnya bagaikan kitab yang merekam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa kuno. Banyak arkeolog meneliti kehidupan masa lampau di Jawa kuno dan Nusantara abad ke-8 dan ke-9 dengan mencermati dan merujuk ukiran relief Borobudur. Bentuk rumah panggung, lumbung, istana dan candi, bentuk perhiasan, busana serta persenjataan, aneka tumbuhan dan margasatwa, serta alat transportasi, dicermati oleh para peneliti.

Salah satunya adalah relief terkenal yang menggambarkan Kapal Borobudur. Kapal kayu bercadik khas Nusantara ini menunjukkan bahwa kebudayaan bahari purbakala yang dibuat berdasarkan relief Borobudur dengan nama kapal Samudra Raksa.

Relief-relief ini dibaca sesuai arah jarum jam atau disebut mapradaksina dalam bahasa Jawa Kuna yang berasal dari bahasa Sanskerta daksina yang artinya ialah timur. Relief relief ini bermacam-macam isi ceritanya, antara lain relief-relief cerita jataka. Pembacaan cerita-cerita relief ini senantiasa dimulai, dan berakhir pada pintu gerbang sisi timur di setiap tingkatnya, mulainya di sebelah kiri daberakhir di sebelah kanan pintu gerbang itu. Maka secara nyata bahwa sebelah timur adalah tangga naik yang sesungguhnya (utama) dan menuju puncak candi, artinya bahwa candi menghadap ke timur meskipun sisi-sisi lainnya serupa benar.

Relief Candi Borobudur

Relief cerita pada dinding - dinding Candi Borobudur berjumlah 1.460 adegan, yang terdiri dari relief dekoratif (hiasan) berjumlah 1.212 pigura, dan seluruhnya tersusun dalam 11 deret yang mengelilingi bangunan. Sebagian besar seluruh relief yang ada di Borobudur merupakan rangkaian relief yang mempunyai jalan cerita yang terdiri atas gambaran dewa, manusia, binatang, pohon, bangunan rumah, dan lain-lain.

Relief Candi Borobudur mampu menghadirkan suasana tertentu sehingga bagaikan kumpulan kitab suci, Candi Borobudur mengabadikan isi kitab suci secara visual dimulai dari bagian kaki candi sampai dengan dinding lorong tingkat 1-4. Gambaran yang dipahatkan pada relief Karmawibhangga diperoleh dari kenyataan realita hidup sehari-hari masyarakat Jawa Kuna abad VIII – IX Masehi. Relief Karmawibhangga menyimpan banyak informasi, diantaranya kondisi flora fauna, lingkungan alam, status sosial, bentuk pakaian, alat musik, alat upacara, mata pencaharian, peranan wanita, dan masih banyak lainnya.

Lokasi relief.
Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Relief cerita adalah sebuah transfer naskah cerita ke dalam suatu bentuk seni yang konkrit. Karena hal ini dimaksudkan sebagai penggambaran sebuah cerita, maka di dalam relief terdapat susunan bentuk - bentuk tertentu oleh si seniman sedapat mungkin diusahakan mencerminkan keadaan dan peristiwa yang terjadi di dalam cerita yang bersangkutan. Oleh karena itu di dalam relief, munculnya sosok tubuh tokoh - tokoh yang disebut dalam cerita beserta bentuk - bentuk tertentu (rumah, pohon, sungai, dan sebagainya) adalah sebagai petunjuk tentang situasi dan kondisi tempat dimana terjadinya sebuah peristiwa adalah yang diharapkan.

Susunan dan pembagian relief cerita pada dinding dan pagar langkan candi adalah sebagai berikut:
Kaki candi - Karmawibhangga - 160 Pigura.
Tingkat I
Dinding Utama a. Lalitawistara - 120 Pigura. b. Jataka/Awadana - 120 Pigura.
Langkan a. Jataka/Awadana - 372 Pigura. b. Jataka/Awadana - 128 Pigura.
Tingkat II
Dinding - Gandawyuha - 128 Pigura.
Langkan - Jataka/Awadana - 100 Pigura.
Tingkat III
Dinding - Gandawyuha - 88 Pigura.
Langkan - Gandawyuha - 88 Pigura.
Tingkat IV
Dinding - Gandawyuha - 84 Pigura.
Langkan - Gandawyuha - 72 Pigura.
Jumlah - 1460 Pigura.

Lalitawistara

Lalitavistara Sutra merupakan kisah tentang penggambaran riwayat hidup Sidharta Gautama ang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari surge Tushita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur.

Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.

Lalitavistara Sutra itu sendiri ditulis sekitar abad pertama sampai abad ketiga Masehi. Di dalam kitab ini terdapat beberapa aspek yang tua yang berasal dari legenda lisan, dan juga elemen-elemen yang berkembang belakangan yang tidak terdapat di versi riwayat Buddha yang lebih tua. Kitab ini sangat terkenal di kalangan Buddhis Mahayana dan Wajrayana, tetapi tidak diketahui Buddhisme Therawada. Di antara semua seri relief Borobudur, identifikasi relief Lalitavistara adalah yang paling lengkap.

Keindahan nilai seni ukir yang ditampilkan Candi Borobudur, menjadikan candi ini kaya akan cerita relief. Deretan ukiran pahatan panil cerita di dinding disetiap lorong menggambarkan nilai seni estetika perpaduan kebudayaan asli Jawa dan agama Buddha. Panil relif cerita yang terdapat pada dinding utama lantai 2 berkisah tentang riwayat kehidupan Sidharta Gautama dalam mencari pencerahan untuk menjadi Buddha.

Cerita Lalitavistara adalah merupakan penggambaran riwayat Sang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Budha dari surga Tushita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa (Kijang) dekat kota Banaras. 

Relief ini berjumlah 120 panel berderet dari tangga pintu masuk utama sebelah timur dan untuk membaca relief ini pengunjung berjalan dengan cara pradaksina yaitu berjalan mengelilingi lorong searah jarum jam. 

Berjalan kearah selatan, panel relief pada lorong lantai 2 dinding utama candi Borobudur pada deretan atas cerita dimulai. Dalam menyimak panel relief pengunjung dapat melalui deretan relief sebanyak 27 pigura dari 120 panel cerita yang mempunyai nilai religius tentang kehidupan Sidharta Gautama dimulai.

Ke-27 pigura panel relief tersebut menggambarkan tentang kesibukan, baik di surga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisatwa sebagai calon Budha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di Arcapada ini sebagai Pangeran Sidhartha, putra Raja Sudhodana dan Permaisuri Maya dari kerajaan Kapilawastu.

Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan setelah mendapatkan pencerahan dibawah pohon Bodhi, denhan memberikan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, yaitu ajaran Sang Budha di sebut dharma yang berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda.

Kitab Lalitavistara ditulis kurang lebih sekitar abad pertama sampai sekitar abad ketiga Masehi. Di dalam kitab ini terdapat beberapa isinya tentang aspek yang tua yang berasal dari legenda lisan, dan elemen-elemen yang berkembang belakangan, cerita yang tidak terdapat di versi riwayat Budha yang lebih tua. 

Kitab ini sangat terkenal bagi umat Budha Mahayana dan Budha Wajrayana, tetapi tidak begitu banyak diketahui bagi Budhisme Therawada. Di antara semua seri relief yang ada di candi Borobudur, identifikasi cerita panel relief tentang Lalitavistara di Candi Borobudur adalah yang paling lengkap. Diceritakan kisah Lalitavistara dengan rangkuman narasi panel relief pada dinding utama Borobudur adalah sebagai berikut:

Lalitavistara

Awal kelahiran terakhir Buddha
Panel relief dinding utama lorong kedua diceritakan dalam suatu ketika pada saat para Dewa yang berada di surga Tusita telah memberikan ijin dengan mengabulkan permohonan bagi Bodhisatwa untuk turun ke dunia dan akan lahir kembali menjadi seorang Buddha, dengan tujuan untuk memberikan bimbingan kepada manusia yang tersesat dan untuk mengembalikan ke jalan yang benar. Dengan menjelma dalam bentuk sebagai manusia bernama Buddha Gautama, Sidharta.

Didalam istana kerajaan Kapilawastu Raja Sudhodana dan Ratu Maya sedang dalam percakapan yang mendalam tentang keinginan untuk mendapatkan dan mempunyai seorang putra. Keinginan tersebut membuat keduanya untuk bermeditasi, untuk mendapatkan keturunan.  

Dalam suatu waktu disebutkan, didalam istana kerajaan, Dewi Maya permaisuri Sudhodana, Raja dari Kapilavastu mendapatkan sesuatu tentang bermimpi melihat seekor gajah putih dengan bentuk  bertaring enam, kemudian masuk menyusup,  ke tubuhnya. Gajah putih di dalam mimpi itu turun dari surga Tusita dengan mengendarai bunga teratai yang tak lain adalah Bodhisatwa sendiri. Bersamaan dengan kejadian itu dewa-dewa menyampaikan rasa hormat yang dalam dengan menyembahnya.

Kemudian dengan kejadian datangya sebuah mimpi yang belum bisa diterjemahkan, menimbulkan keinginan Dewi Maya untuk menceritakan mimpinya kepada Raja Sudhodana, dikarenakan tidak tahu apa arti dari mimpinya. Demikian halnya dengan Raja Sudhodana, setelah berpikir dan merenungkan mimpi tersebut, akhirnya diputuskan utuk menanyakan arti mimpi itu kepada orang yang bijak, orang yang berilmu damai hati yaitu seorang Brahma yang bernama Asita.

Dijelaskan pada kesempatan tersebut bahwa Dewi Maya permaisuri, akan mendapatkan anugerah yaitu sedang mengandung anak calon raja dunia. Didalam hati Dewi Maya sangat gembira tetapi keinginan agar kelak putranya menjadi seorang bijak Brahma belum didapatkan. Akan sangat berbeda penjelasan Brahma yang membuat perasaan hati Raja Sudhodana merasa sangat bergembira, karena untuk waktu yang cukup lama Raja Sudhodana mendambakan putra, yang kelak akan menjadi pewaris tahta kerajaan raja selanjutya. 

Hal yang menggembirakan disambut dengan suka cita bagi Raja Sudhodana dan kemudian dilaksanakan dengan berbagi yaitu memberikan hasidah kepada Asita dan Brahmana lainnya. Atas peristiwa ini, para Dewa menawarkan surga kepada Dewi Maya.

Dalam perjalanan mengandung putra raja,  dalam kehidupan di istana banyak keajaiban datang. Oleh para Dewa, Dewi Maya diperlihatkan tiga istana atau tiga tempat sekaligus, untuk menggambarkan ajaran Trikaya, yaitu: Dharmakaya, Sambhogakaya dan Nirmanakaya.

Sebelum waktu akan datangnya kelahiran Buddha, di dalam istana Dewi Maya mampu  melakukan berbagai keajaiban, sesuatu hal yang tidak bisa dilakukan  oleh  orang-orang disekitar istana yaitu di antaranya mampu mengobati orang sakit dan orang cacat. Suatu keajaiban juga terjadi di dalam istana, ketika pada saat singa dan gajah yang berada di luar istana menyembah Raja Sudhodana.

Ketika menjelang kelahiran, persiapan di dalam istana dimana Dewi Maya menuju dengan  melakukan perjalanan untuk melahirkan Bodhisatwa. Dewi Maya memberikan kelahiran dengan posisi berdiri dan memegang dahan pohon yang berada di Taman Lumbini. Pada saat Bodhisatwa lahir, terdapat dua arus air yang turun dari langit, arus air yang satu dingin dan arus air lainnya hangat. Arus tersebut kemudian mengguyur membasahi tubuh Sidharta. Pada saat itu dalam keadaan Sidharta lahir bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung melangkah ke arah utara. Tempat dimana dirinya berdiri, ditumbuhi bunga teratai. Seminggu setelah kelahiran tersebut, diceritakan permaisuri Dewi Maya meninggal dunia.

Masa kecil dan remaja Pangeran Sidharta
Asita meramalkan lagi bahwa kelak Pangeran Sidharta akan menjadi orang suci yaitu Budha. Dengan ramalan tersebut membuat pikiran raja Sudhodana menjadi cemas. Kekhawatirannya  karena jika Siddharta tumbuh besar akan menjadi budha, maka kerajaan Kapilavastu tidak mempunyai raja dan tidak ada yang mewarisi.

Oleh sebab itu para pertapa menyarankan, kepada raja Sudhodana agar pangeran Sidharta dijauhkan dari empat peristiwa tentang kehidupan. Bila tidak, kehidupan yang dijalani membuat dia akan menjadi pertapa dan menjadi budha.

Dari masa kecil pangeran sudah menunjukkan hal yang berbeda dengan anak yang lain yaitu tumbuh sebagai anak yang cerdas dan pandai. Pada saat mencapai usia tujuh tahun, pangeran tertarik untuk mempelajari tentang ilmu pengetahuan. Diceritakan, bahwa wajah pangeran dipenuhi dengan sinar terang, sehingga pada saat pertama kali masuk sekolah membuat sang guru pingsan, karena melihat wajah pangeran yang bersinar.

Di usia 16 tahun, tibalah bagi Sidharta untuk mendapatkan jodoh, dengan memberikan cincin dan menikah dengan Puteri Yasodhara, yang dipersunting setelah Sidharta memenangkan beberapa sayembara. Kemudian  Sang pangeran mendapatkan kehormatan diberi tiga buah istana yang khusus, yaitu: Istana musim dingin (Ramma), Istana musim panas (Suramma) dan Istana musim hujan (Subha). Hal ini dilakukan ayahnya, Sudhodana berhubungan dengan perkataan saran pertapa agar anaknya itu tidak diperbolehkan melihat empat peristiwa tentang kehidupan.

Empat pertemuan dan pelepasan agung Sidharta
Setelah beberapa saat lamanya, kehidupan Sidharta sebagai Pangeran anak raja,  hidup di tiga istana yang megah dengan segala sesuatu yang terpenuhi. Sidharta banyak mendapatkan segala keingian terpenuhi seperti makanan,  minuman,  pakaian,  pelayan yang setia dan selalu di jaga oleh pengawal kerajaan, tidaklah membuat kehidupannya lebih baik dikarenakan perasaan bosan selalu berada di istana.  Oleh sebab itu terbersik dipikirannya untuk bisa melihat keadaan di luar istana. 

Suatu hari Bodhisatwa mempunyai keinginan untuk melihat keluar istana,  sehingga meminta izin untuk berjalan di luar istana. Di luar istana kehidupan sangat berbeda, dengan beberapa pengawal kerajaan dimana pada kesempatan ditemui diluar istana tersebut, dilihatnya empat kondisi kehidupan yang sangat berarti dan nyata, yaitu:  Orang tua, Orang sakit, Orang mati dan Orang suci. Melihat hal tersebut, tersirat dalam pikirannya didalam hati bahwa sebenarnya perasaan Sidharta sangat bersedih. Sesaat dalam perenungan keinginnan untuk mengetahui membuatnya menanyakan pada dirinya sendiri tentang apa arti kehidupan ini. Dirinya berpikir, bahwa pertemuan dengan orang suci adalah tentang kehidupan suci yang akan menjawab sebenarnya apa arti hidup.

Didalam kehidupannya, pemikiran dan perenungan tentang empat kehidupan yang dilihatnya mengantarkan  kehidupannya selama 10 tahun bahwa dirinya hidup dalam duniawi. Pergolakkan hati yang dialami Sidharta berjalan terus pada suatu ketika hingga berusia 29 tahun, tepat bersamaan dengan anak pertamanya lahir. 

Pada suatu malam, keinginannya untuk keluar dari istana mendapatkan kesempatan pada dirinya. Akhirnya Bodhisatwa memutuskan untuk keluar meninggalkan istana. Dibantu seorang pengawal pembawa kuda yang mengantarkan dirinya membantu Sidharta,  dirinya akan bertekad bulat untuk mencari dan melakukan pelepasan yang agung dan hidup sebagai seorang pertapa.

Dalam pencariannya sebagai pertapa, Sidharta mendapat kesempatan untuk berguru pada Alara Kalama. Tidaklah lama,  karena merasa bahwa selama berguru, semua yang telah dilakukan dan dipelajari itu sia-sia, maka dirinya memantapkan diri untuk melakukan meditasi  pertapaan dengan ditemani oleh lima orang muridnya. Selama pertapaannya ini, telah terjadi banyak perubahan dengan tubuhnya, membuat badannya menjadi kurus hingga tulang. sampai tidak kuat menopang tubuh Bodhisatwa.

Diceritakan pada suatu ketika datanglah seorang perempuan yang bernama Sujana, dengan memberikan semangkuk bubur susu kepada pertapa Sidharta, supaya tubuhnya kembali segar dan bugar. Namun beberapa saat kekhawatiran muncul dari Dewi Maya, karena merasa tidak tega melihat penderitaannya, akhirnya Dewi Maya kemudian turun dari surga ke bumi untuk mengakhiri pertapaan Sidharta. Dengan memberikan makanan kepada Sidharta, melalui pori-pori kulitnya untuk memulihkan kembali kesehatan tubuhnya.

Siddharta saat itu mengakhiri pertapaannya dan kemudian menuju ke sungai Nairanjana untuk mandi. Dalam kesempatan yang baik itu Sidharta  bertekad untuk mencapai pencerahan dan Pemutaran Roda Dharma Perdana Buddha.

Bodhisatwa dalam keadaan merasa tubuhnya sangat lemas dan maut hampir merenggut jiwanya. Namun, karena dengan keinginan dan tekad yang sekuat baja akhirnya Bodhisatwa dapat melajutkan pertapaannya di bawah pohon Bodhi.

"Meskipun dagingku busuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Sampai aku mencapai pencerahan sempurna".

Diceritakan juga dengan berbagai tipu daya adalah upaya Dewi Mara untuk menghentikan  dan  menggagalkan pertapaannya. Namun dengan segala daya upaya Bodhisatwa, datanglah keajaiban dan semua mara bahaya yang muncul untuk menggagalkan pertapaannya,  dapat disingkirkan dengan mengubah setiap godaan menjadi bunga.

Dan pada saat itu, tibalah waktu yang dinantikan bagi Bodhisatwa untuk mencapai pencerahan yang sempurna. Saat itu Bodhisatwa akan menerima kebijaksanaan tertinggi yang akan membimbing keselamatan terakhir dan telah menjadi Buddha tepat saat bulan purnama tahun 531 SM Hari ke delapan bulan ke 12.

Pada saat mencapai pencerahan yang sempurna, terlihat dalam tubuhnya memancarkan sinar terang. Sinar yang berwarna biru mempunyai arti bakti, warna kuning artinya tentang kebijaksanaan dan pengetahuan, warna merah yang artinya kasih sayang dan belas kasih, sedangkan putih itu berarti suci. 

Setelah Bodhisatwa mendapatkan pencerahan yang sempurna, dengan santun Bodhisatwa menemui kelima temannya yang dahulu pernah menemaninya dan mengangkat mereka menjadi murid-murid pertamanya. Dan diceritakan pada kesempatan yang berbahagia, kelima murid itulah yang untuk pertama kalinya mendengarkan khotbah atau wejangan Buddha, yaitu ajaran penyelamatan.

Sumber: Tehnik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.

No comments:

Post a Comment

Relief Story of Lalitavistara

W elcome  to  Borobudur, one of the sacred buildings of Buddhism as a World Cultural Heritage site. The splendor and beauty of Borobudur has...