Wednesday, September 25, 2024

Membaca Relief Lalitavistara


Selamat datang di Borobudur, salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Kemegahan dan keindahan Borobudur mempunyai nilai sejarah tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai objek wisata utama, dan juga tujuan wisata prioritas bagi pengunjung nusantara maupun mancanegara.

Chandi Borobudur menarik antusiasme yang luar biasa untuk mengunjungi dan mendalami beberapa sumber narasi dalam wisata tematik, dengan tujuan untuk mengenal lebih dekat sejarah, arsitektur, dan seni rupa bangunan ini.

Pemandu wisata yang ramah akan menemani dalam kesempatan menarik ini, memberikan narasi dan penjelasan sebagai wujud apresiasi atas kajian dan partisipasi dalam menjaga, melindungi dan melestarikan warisan budaya leluhur.

Chandi Borobudur merupakan candi Buddha terbesar di dunia, kemegahan dan keunikan arsitektur serta keindahan seni rupa yang ditampilkan Borobudur terpampang pada dinding dan langkan yang sangat indah, serta mempunyai nilai seni yang tinggi.

Ukiran pada dinding utama Borobudur yang sangat bermakna bagi umat Buddha merupakan cerita tentang kehidupan Sidharta Gautama. Kisah ini sangat indah dan elok dalam budaya Buddha, merupakan kisah yang diambil dari naskah/teks Lalitavistara.

Lorong dinding relief

Keindahan seni ukir salah satu sisi dinding relif lorong Rupadhatu Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Relief Lalitavistara

Chandi Borobudur kaya akan cerita relief, terdapat 1.460 ukiran cerita dan 1.212 ukiran hias yang indah dan anggun. Yang menggambarkan nilai seni estetis budaya Buddha adalah cerita di dinding utama tentang riwayat hidup Sidharta Gautama yang diambil dari naskah/teks Lalitavistara.

Lalitavistara adalah cerita atau naskah tentang penggambaran riwayat Sidharta Gautama dalam rangkaian deretan relief (tetapi bukan riwayat lengkap), yang digambarkan dan diukir pada dinding Borobudur, dimulai dari turunnya Sang Buddha dari Surga Tushita, dan diakhiri dengan khotbah atau wejangan pertama di Taman Rusa (Taman Kijang) dekat kota Banaras.

Relief Lalitavistara berjumlah 120 panel relief berderet dari tangga pintu masuk utama sebelah timur dan untuk membaca relief ini para pengunjung berjalan melalui serangkaian lorong dinding utama dengan cara Pradaksina yaitu berjalan mengelilingi lorong searah jarum jam. Berjalan kearah selatan, panel relief pada lorong lantai 2 dinding utama Borobudur pada panel relief deretan atas cerita dimulai.

Lalitavistara Sutra itu sendiri ditulis sekitar abad pertama abad ketiga Masehi. Di dalam kitab ini terdapat beberapa aspek yang tua yang berasal dari legenda lisan, dan juga elemen-elemen yang telah berkembang belakangan yang tidak terdapat di versi riwayat Buddha yang lebih tua.

Kitab ini sangat terkenal bagi kalangan umat Buddha Mahayana dan Buddha Wajrayana, tetapi kurang begitu banyak diketahui bagi Buddhisme Therawada. Di antara semua seri panel relief yang ada di candi Borobudur, untuk identifikasi cerita panel relief tentang Lalitavistara adalah yang paling lengkap.

Beberapa panel-panel relief dalam kitab Lalitavistara dirangkum sebagai berikut:

Lalitavistara

Awal dari Kelahiran Terakhir Buddha

Panel relief pada dinding utama lorong kedua menceritakan masa ketika para Dewa di Sorga Tusita telah memberikan izin untuk mengabulkan keinginan Bodhisattva untuk turun ke dunia dan terlahir kembali menjadi Buddha, dengan tujuan untuk memberikan bimbingan dan petunjuk kepada umat manusia dan mengembalikan ke jalan yang benar. Dengan menjelma menjadi manusia bernama Buddha Gautama, Sidharta.

Di istana kerajaan Kapilawastu, Raja Sudhodana dan Ratu Maya sedang berbincang mendalam mengenai keinginan mereka untuk memiliki dan mempunyai seorang putra. Keinginan tersebut membuat mereka berdua bermeditasi, untuk memiliki keturunan.

Pada saat itu disebutkan, di istana kerajaan, Dewi Maya, permaisuri Sudhodana, Raja Kapilavastu, bermimpi melihat seekor gajah putih bergading enam, lalu menyusup ke tubuh Ratu Maya. Gajah putih dalam mimpi turun dari surga Tusita dengan menunggangi bunga teratai, yang tidak lain adalah Bodhisattva sendiri. Pada saat yang sama, para dewa mengungkapkan rasa hormat yang mendalam dengan memujanya.

Kemudian karena kejadian mimpi yang belum bisa diartikan, timbullah keinginan Dewi Maya untuk menceritakan kepada Raja Sudhodana tentang mimpinya, tentang apa arti mimpinya. Begitu pula dengan Raja Sudhodana, setelah memikirkan dan merenungi mimpi tersebut, akhirnya ia memutuskan untuk menanyakan arti mimpi tersebut kepada orang bijak, orang yang berakal budi, yaitu seorang Brahma yang bernama Asita.

Dijelaskan pada kesempatan tersebut bahwa Dewi Maya permaisuri, akan mendapatkan anugerah yaitu sedang mengandung anak calon raja dunia. Didalam hati Dewi Maya sangat gembira tetapi keinginan agar kelak putranya menjadi seorang bijak atau Brahma belum didapatkan.

Akan sangat berbeda penjelasan Brahma yang membuat perasaan hati Raja Sudhodana merasa sangat bergembira, karena untuk waktu yang cukup lama Raja Sudhodana mendambakan putra, yang kelak akan menjadi pewaris tahta kerajaan raja selanjutnya.

Hal yang menggembirakan ini disambut dengan gembira oleh Raja Sudhodana dan kemudian dilakukan dengan cara berbagi yaitu memberikan hasidah kepada Asita dan Brahmana lainnya. Atas kejadian tersebut, para Dewa kemudian mempersembahkan surga kepada Dewi Maya.

Dalam perjalanan mengandung putra raja, dalam kehidupan di istana banyak ditemui keajaiban. Salah satunya oleh para Dewa, Dewi Maya diperlihatkan tiga istana atau tiga tempat sekaligus, ketiga istana itu mempunyai tujuan untuk menggambarkan tentang ajaran Trikaya, yaitu ajaran Dharmakaya, Sambhogakaya dan Nirmanakaya.

Sebelum waktu akan datangnya kelahiran Buddha, di dalam istana Dewi Maya mampu melakukan berbagai keajaiban, sesuatu hal yang tidak bisa dilakukan oleh orang-orang disekitar istana yaitu di antaranya mampu mengobati orang sakit dan orang cacat. Suatu keajaiban juga terjadi didalam istana, ketika pada saat singa dan gajah yang berada di luar istana menyembah Raja Sudhodana.

Ketika menjelang kelahiran, persiapan di dalam istana dimana Dewi Maya menuju dengan melakukan perjalanan untuk melahirkan Bodhisatwa. Dewi Maya memberikan kelahiran dengan posisi berdiri dan memegang dahan pohon yang berada di Taman Lumbini. 

Pada saat Bodhisatwa lahir, terdapat dua arus air yang turun dari langit, arus air yang satu dingin dan arus air lainnya hangat. Arus tersebut kemudian mengguyur membasahi tubuh Sidharta. Pada saat itu dalam keadaan Sidharta lahir bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung melangkah ke arah utara. Tempat dimana dirinya berdiri, ditumbuhi bunga teratai.

Seminggu setelah kelahiran tersebut, diceritakan permaisuri Dewi Maya meninggal dunia.

Masa Kecil dan Remaja Sidharta

Asita meramalkan lagi bahwa kelak Pangeran Sidharta akan menjadi orang suci yaitu Buddha. Dengan ramalan tersebut membuat pikiran raja Sudhodana menjadi sangat cemas akan kekhawatirannya adalah jika putranya tumbuh besar maka akan menjadi Buddha. Hal ini membuat kerajaan Kapilavastu tidak mempunyai raja dan tidak ada yang mewarisinya.

Oleh sebab itu para pertapa menyarankan, kepada raja Sudhodana agar pangeran Sidharta harus dijauhkan dari empat peristiwa tentang kehidupan. Bila tidak, kehidupan yang akan dijalani membuat dia menjadi seorang pertapa atau orang suci Buddha.

Dari masa kecil Pangeran sudah menunjukkan hal yang berbeda dengan anak yang lain yaitu tumbuh sebagai anak yang cerdas dan pandai. Pada saat mencapai usia tujuh tahun, pangeran tertarik untuk mempelajari tentang ilmu pengetahuan. Diceritakan, bahwa wajah pangeran dipenuhi dengan sinar terang, sehingga pada saat pertama kali masuk sekolah membuat sang guru pingsan, karena melihat wajah pangeran yang bersinar.

Pada usia 16 tahun, tibalah waktunya bagi Sidharta untuk mendapatkan jodoh, memberikan cincin, menikah dengan memilih Puteri Yasodhara, yang dipersunting setelah Sidharta berhasil memenangkan beberapa sayembara. Kemudian atas kemenangan tersebut mendapatkan kehormatan diberikan tiga istana yang megah dan khusus, yaitu Istana musim dingin (Ramma), Istana musim panas (Suramma) dan Istana musim hujan (Subha).

Hal ini dilakukan oleh ayahnya, Sudhodana berhubungan dengan perkataan dan saran dari pertapa agar putranya itu tidak diperbolehkan melihat empat peristiwa tentang kehidupan.

Empat Pertemuan dan Pelepasan Agung Sidharta


Setelah beberapa saat lamanya, kehidupan Sidharta sebagai seorang putra raja, berada di tiga istana yang megah dan lengkap dengan segala sesuatu dapat terpenuhi. Sidharta mendapatkan segala kemewahan seperti makanan, minuman, pakaian, pelayan yang setia dan selalu di jaga oleh pengawal kerajaan, akan tetapi tidaklah membuat kehidupannya lebih baik dikarenakan perasaan bosan karena selalu berada di istana. Oleh sebab itu terbersik dipikirannya untuk bisa melihat keadaan di luar istana.

Suatu hari Bodhisatwa mempunyai keinginan untuk melihat keluar istana, sehingga meminta izin untuk berjalan di luar istana. Di luar istana kehidupan sangat berbeda, dengan beberapa pengawal kerajaan dimana pada kesempatan ditemui diluar istana tersebut, dilihatnya empat kondisi kehidupan yang sangat berarti dan nyata, yaitu: Orang tua, Orang sakit, Orang mati dan Orang suci.

Melihat hal tersebut, tersirat dalam pikirannya didalam hati bahwa sebenarnya perasaan Sidharta sangat bersedih. Sesaat dalam perenungan keinginan untuk mengetahui hingga membuatnya menanyakan dalam hati pada dirinya sendiri tentang apa arti kehidupan ini. Dirinya berpikir, bahwa pertemuan dengan orang suci adalah tentang kehidupan suci yang akan menjawab sebenarnya apa arti hidup.

Didalam kehidupannya, pemikiran dan perenungan tentang empat kehidupan yang dilihatnya telah mengantarkan dalam kehidupannya selama 10 tahun bahwa dirinya hidup dalam berbagai macam bentuk kehidupan duniawi. Pergolakkan hati yang dialami Sidharta berjalan terus sehingga pada satu ketika saat berusia 29 tahun, dan itu tepat bersamaan dengan kelahiran anak pertamanya.

Pada suatu malam, keinginannya untuk keluar dari istana mendapatkan kesempatan dirinya, Bodhisatwa memutuskan untuk keluar meninggalkan istana. Pengawal pembawa kuda mengantarkan dirinya membantu Sidharta, dirinya akan bertekad bulat untuk mencari dan melakukan pelepasan yang agung dan hidup sebagai seorang pertapa.

Bodhisatwa dalam keadaan merasa tubuhnya sangat lemas dan maut hampir merenggut jiwanya. Namun, karena dengan keinginan dan tekad yang sekuat baja akhirnya Bodhisatwa melajutkan pertapaannya di bawah pohon Bodhi.

"Meskipun dagingku busuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Sampai aku mencapai pencerahan sempurna".

Diceritakan juga dengan berbagai tipu daya yaitu upaya Dewi Mara untuk menghentikan dan menggagalkan pertapaannya. Namun dengan segala daya upaya Bodhisatwa, datanglah keajaiban dan semua mara bahaya yang muncul untuk menggagalkan pertapaannya, dapat disingkirkan dengan mengubah setiap godaan menjadi bunga.

Dan saat itu, tibalah saatnya bagi Bodhisatwa untuk mencapai pencerahan sempurna. Bodhisatwa akan menerima kebijaksanaan tertinggi yang membimbing keselamatan terakhir dan telah menjadi Budha tepat saat bulan purnama tahun 531 SM Hari ke delapan bulan ke 12.

Pada saat mencapai pencerahan sempurna, terlihat dalam tubuhnya memancarkan sinar. Sinar yang berwarna biru mempunyai arti bakti, warna kuning artinya tentang kebijaksanaan dan pengetahuan, warna merah yang artinya kasih sayang dan belas kasih, sedangkan putih itu berarti suci.

Setelah Bodhisatwa menerima pencerahan yang sempurna, dengan santun Bodhisatwa menemui kelima temannya yang dahulu pernah menemaninya dan mengangkat mereka menjadi murid-murid pertamanya. Dan diceritakan pada kesempatan yang berbahagia, kelima murid itulah yang untuk pertama kalinya mendengarkan khotbah wejangan Buddha, yaitu ajaran penyelamatan.

Lalitavistara
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.

Berwisata dan berkunjung dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik dan menjelajahi Borobudur sebagai bangunan suci Budha adalah sesuatu yang sangat istimewa, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, adalah suatu bentuk apresiasi dan turut serta dalam melestarikan dan melindungi Borobudur yang merupakan situs warisan budaya dunia, Chandi Borobudur merupakan monumen terbesar di dunia.

Relief Cerita Borobudur
Salah satu relif dinding kaki candi teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.

Menjelaskan bahwa 'Upanat' adalah alas kaki yang digunakan ketika mengunjungi teras Candi Borobudur. Kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti tur tematik serta mengagumi kemegahan dan seni rupa monumen ini. Hal ini sebagai bentuk apresiasi dan mengenal Borobudur, serta berperan dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia di Borobudur, Indonesia.

Selamat datang, senang dengan perjalanan mengunjungi kemegahan chandi Borobudur, yang merupakan salah satu situs warisan budaya dunia dan sebagai destinasi wisata budaya di Indonesia. Keramahan pemandu wisata, akan mengantar dan memberikan narasi dalam mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur dalam panduan wisata sejarah Borobudur.

Chandi Borobudur
Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.
Chandi Borobudur or Barabudur
is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Lalitawistara

Lalitavistara Sutra merupakan kisah tentang penggambaran riwayat hidup Sidharta Gautama ang Buddha dalam deretan relief-relief (tetapi bukan merupakan riwayat yang lengkap) yang dimulai dari turunnya Sang Buddha dari surge Tushita, dan berakhir dengan wejangan pertama di Taman Rusa dekat kota Banaras. 6Relief ini berderet dari tangga pada sisi sebelah selatan, setelah melampui deretan relief sebanyak 27 pigura yang dimulai dari tangga sisi timur. Ke-27 pigura tersebut menggambarkan kesibukan, baik di sorga maupun di dunia, sebagai persiapan untuk menyambut hadirnya penjelmaan terakhir Sang Bodhisattwa selaku calon Buddha. Relief tersebut menggambarkan lahirnya Sang Buddha di arcapada ini sebagai Pangeran Siddhartha, putra Raja Suddhodana dan Permaisuri Maya dari Negeri Kapilawastu. Relief tersebut berjumlah 120 pigura, yang berakhir dengan wejangan pertama, yang secara simbolis dinyatakan sebagai Pemutaran Roda Dharma, ajaran Sang Buddha di sebut dharma yang juga berarti "hukum", sedangkan dharma dilambangkan sebagai roda. Lalitavistara Sutra itu sendiri ditulis sekitar abad pertama sampai abad ketiga Masehi. Di dalam kitab ini terdapat beberapa aspek yang tua yang berasal dari legenda lisan, dan juga elemen-elemen yang berkembang belakangan yang tidak terdapat di versi riwayat Buddha yang lebih tua. Kitab ini sangat terkenal di kalangan Buddhis Mahayana dan Wajrayana, tetapi tidak diketahui Buddhisme Therawada. Di antara semua seri relief Borobudur, identifikasi relief Lalitavistara adalah yang paling lengkap.

arisguide
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.


Jataka Avadana


Selamat datang di Borobudur, salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Kemegahan dan keindahan Borobudur mempunyai nilai sejarah tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai objek wisata utama, dan juga tujuan wisata prioritas bagi pengunjung nusantara maupun mancanegara.

Chandi Borobudur menarik antusiasme yang luar biasa untuk mengunjungi dan mendalami beberapa sumber narasi dalam wisata tematik, dengan tujuan untuk mengenal lebih dekat sejarah, arsitektur, dan seni rupa bangunan ini.

Pemandu wisata yang ramah akan menemani dalam kesempatan menarik ini, memberikan narasi dan penjelasan sebagai wujud apresiasi atas kajian dan partisipasi dalam menjaga, melindungi dan melestarikan warisan budaya leluhur.

Chandi Borobudur merupakan candi Buddha terbesar di dunia, kemegahan dan keunikan arsitektur serta keindahan seni rupa yang ditampilkan Borobudur terpampang pada dinding dan langkan yang sangat indah, serta mempunyai nilai seni yang tinggi. 

Ukiran yang terpahat pada dinding Borobudur, salah satu cerita relief yang terkait dengan penggambaran budi pekerti yang sangat bermakna bagi umat Buddha adalah cerita tentang kehidupan yang diambil dari teks Jataka dan Awadana. Salah satu cerita relief di Borobudur yang sangat indah dan elok didalam agama Buddha adalah cerita tentang Jataka dan Awadana. Cerita tentang perbuatan-perbuatan yang baik dan mempunyai nilai moral yang tinggi.

Dinding lorong relief cerita Borobudur
Keindahan seni ukir salah satu relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Jataka Avadana

Jataka dan Avadana diperlakukan dalam satu rangkaian yang sama tanpa perbedaan yang nyata pada relief-relief Candi Borobudur. Tidak ada sistem pergantian tertentu yang terbukti. Relief-relief cerita Jataka dan Awadana di dinding Borobudur berderet dari sisi timur dan terdapat pada deretan panil relief di pagar langkan rangkaian atas, tersusun secara indah dengan pahatan yang halus dan mempunyai nilai estetika seni rupa yang elok.

Berjalan dari sisi timur akan dijumpai berderet dua puluh panel pertama di dinding utama galeri pertama yang menggambarkan tentang perjalanan Sudhanakumaravadana atau karya suci Sudhana. Dengan jumlah 135 panil relief bagian dinding atas pertama di galeri yang sama di pagar langkan dikhususkan untuk 34 legenda cerita Jatakamala. Sedangkan sisanya 237 panel relief menggambarkan tentang cerita-cerita dari sumber yang lainnya, seperti halnya seri dan panel relief yang lebih rendah atau bagian bawah di galeri kedua.

Deretan relief di dinding galeri pertama sebagian besar menggambarkan avadana. Beberapa jataka dimasukkan melalui variasi. Sistem di baris atas rangkaian pagar langkan sangat berbeda. Reliefnya hampir semua cerita Jataka, dengan hanya beberapa cerita Avadana.

Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan-perbuatan baik, seperti sikap rela berkorban dan suka menolong yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga.

Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana.

Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Relif-relif cerita Jataka dan Awadana di candi Borobudur berderet dari sisi timur dan berada pada tingkat I pada deretan panil relif di pagar langkan rangkaian atas, tersusun dengan indah dengan pahatan yang halus dengan nilai estetika seni rupa kebudayaan Borobudur yang elok.

Berjalan dari sisi timur akan dijumpai berderet dua puluh panel pertama di galeri pertama di dinding yang menggambarkan tentang Sudhanakumaravadana, atau karya suci Sudhana. Dengan jumlah relif 135 panil atas pertama di galeri yang sama di langkan dikhususkan untuk 34 legenda Jatakamala. Sisanya 237 panel menggambarkan cerita dari sumber lain, seperti halnya seri dan panel yang lebih rendah di galeri kedua. Beberapa jataka digambarkan dua kali, misalnya kisah Raja Sibhi (nenek moyang Rama).

Jataka

Langkan: Jataka dan Avadana
Cerita Jataka di candi Borobudur merupakan cerita tentang Sang Buddha sebelum ia dilahirkan sebagai Pangeran Siddhartha, yang berada pada deretan dinding lorong yang berisi tentang kisah-kisah yang menceritakan tentang kehidupan sebelumnya Sang Buddha, baik dalam bentuk manusia maupun hewan. Buddha masa depan mungkin muncul di dalam diri mereka sebagai raja, orang buangan, dewa, atau dalam bentuk satwa gajah, akan tetapi dalam bentuk apa pun, ia menunjukkan beberapa kebajikan yang diceritakan oleh kisah tersebut.

Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Beberapa kisah Jataka di candi Borobudur yang dapat dilihat pada dinding pagar langkan sebagai contoh adalah sebagai berikut:

Ketika Bodhisatwa lahir sebagai Kura-Kura raksasa
Contoh pengorbanan diri yang mencolok ditunjukkan oleh Bodhisattva ketika ia dilahirkan sebagai kura-kura raksasa.

Suatu hari lima ratus pedagang karam, dan berjuang mati-matian melawan ombak. Sang Bodhisattva muncul, membawa kelima ratus orang itu di punggungnya, dan membawa mereka dengan selamat ke pantai.

Kura-kura itu kelelahan, dan tertidur. Para pedagang, yang tersiksa oleh kelaparan, memutuskan untuk membunuh kura-kura tersebut dan memakan dagingnya. Bodhisattva bangun, dan ketika dia mengerti apa yang sedang terjadi, dia merasa kasihan pada para pedagang yang kelaparan. Dia menawari mereka tubuhnya untuk dimakan, dan dengan demikian orang-orang yang tidak beruntung diselamatkan.

Kisah Burung Puyuh dan Kebakaran Hutan
Relief ini terletak pada dinding di sisi sebelah selatan pada pagar langkan rangkaian atas dinding Borobudur.

Satu keluarga burung Puyuh hidup bersarang di hutan. Seekor anaknya ada yang tidak mau makan makhluk hidup yang dibawakan ibunya. Ia hanya makan tumbuh-tumbuhan dan biji-bijian. Akhirnya ia terlihat tidak tumbuh dengan baik. Ia tidak bisa terbang karena tidak memiliki bulu di sayapnya.

Tanpa di ketahui sebabnya, tiba-tiba terjadi kebakaran hutan. Semua binatang yang berada di hutan kebingungan dan ketakutan berusaha mencari perlindungan. Binatang-binatang itu heran melihat seekor burung yang lemah, tidak memiliki bulu sehingga tidak bisa terbang, tetap tenang di sarangnya dan api terlihat tidak bisa membakarnya.

Berkat sikap dan perilakunya yang tidak mau makan sesama makhluk hidup serta selalu berbuat baik, maka doanya agar selamat dari api telah dikabulkan oleh dewa. Meskipun tidak bisa lari, ia tetap tenang dan ternyata api memang padam didekat sarangnya.

Kisah Bodhisattva terlahir sebagai Kelinci

Menyebutkan Bodhisattva pernah terlahir sebagai seekor Kelinci. Teman-teman terdekatnya adalah seekor Berang-berang, Serigala, dan Monyet. Pada suatu hari ingin menguji Kelinci, Dewa Sakra muncul di hutan dalam wujud seorang Brahmana yang tersesat dan kelaparan.

Keempat sahabat itu bergegas menemui Brahmana dan memberikan bantuan. Berang-berang membawa tujuh ekor ikan, Serigala membawa seekor kadal, dan monyet membawa buah-buahan yang matang. Pada saat Kelinci tidak bisa menawarkan apapun. Kemudian Brahmana menyalakan api untuk persembahan, dan segera Kelinci itu melompat ke dalam api tersebut, mempersembahkan dirinya sebagai hewan kurban.

Raja para dewa mengagumi perbuatan suci itu, dan sambil kembali ke wujudnya sendiri, dia memuji Kelinci atas pengorbanan dirinya.

Kisah Burung Pelatuk dan Seekor Singa
Relief ini berada pada sisi sebelah selatan dalam deretan panil relif di pagar langkan rangkaian atas.

Kisah yang menceritakan di dalam sebuah hutan hidup burung yang baik hati. Ia berbulu indah dan tidak mau menyakiti makhluk lainnya. Oleh karena itu ia merasa cukup hanya makan bunga, daun dan buah-buahan.

Pada suatu hari, burung Pelatuk melihat seekor Singa yang kesakitan karena sebatang tulang menyangkut di tenggorokannya. Burung Pelatuk memerintahkan Singa untuk membuka mulutnya lebar-lebar dan dengan sebatang kayu yang diletakkan berdiri tegak di antara rahangnya maka mulut Singa dapat terbuka. Burung Pelatuk akhirnya dapat mengeluarkan tulang dari tenggorokan Singa dengan patuknya.

Suatu saat, burung Pelatuk kelaparan dan kebetulan melihat Singa yang dulu pernah ditolongnya sedang memakan daging rusa. Burung Pelatuk memohon kepada Singa agar diberi sedikit daging tetapi Singa tidak memberinya dan bahkan mengusir burung Pelatuk. Burung Pelatuk berlalu pergi meninggalkan Singa tersebut dan tidak menaruh dendam padanya. Meskipun Dewa menyarankan agar burung Pelatuk mematuk mata Singa tersebut agar menjadi buta, tetapi burung Pelatuk tidak mau melakukannya.

Awadana

Awadana merupakan cerita yang pada dasarnya mempunyai persamaan dengan cerita Jataka, akan tetapi yang diceritakan bukan tokoh pelakunya Sang Bodhisattwa. Cerita Avadana yang berhubungan dengan cerita Jataka, yang tokoh utamanya bukan Bodhisattva sendiri, berkisah tentang perbuatan akhlak suci dalam avadana yang dikaitkan dengan orang-orang yang legendaris dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana.

Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Sejumlah 20 panel relif pertama di seri bawah pada dinding utama galeri pertama merupakan panil cerita yang menggambarkan tentang tokoh yang bernama Sudhanakumaravadana atau Perbuatan Suci dari Pangeran Sudhanakumara, yang berasal dari teks Divyavadana.

Cerita dimulai dengan persaingan dua kerajaan: kerajaan Panchala Utara yang makmur, dan kerajaan Panchala Selatan yang dilanda kemiskinan. Raja Selatan menyadari bahwa Panchala Utara berutang kemakmuran kepada seorang Naga bernama Janmachitraka, yang bersahabat dengan saingannya, dan memastikan curah hujan teratur.

Dia memutuskan untuk memohon bantuan dari seorang pawang ular yang sakti untuk memindahkan Naga ke Panchala Selatan. Atas jasanya, pemburu dihibur oleh keluarga Naga dan dihadiahi permata yang tak ternilai harganya. Namun, seorang peramal menasihati Halaka untuk mengambil laso yang tidak pernah gagal yang dimiliki oleh para Naga.

Pangeran Sudhanakumara menunjuk seorang brahmana sebagai calon pendeta istananya, yang membuat kesal pendeta tinggi ayahnya, yang melihat masa depannya lenyap menjadi asap. Putra mahkota meminta ibunya untuk menjaga Manohara, dan berbaris keluar.

Tanpa diduga dia menikmati dukungan penuh dari raja Yaksa (setan yang baik hati), yang bergabung dalam ekspedisi dengan pasukannya yang sangat besar. Sementara itu, mimpi raja yang tidak menyenangkan ditafsirkan oleh imam besar yang ganas sebagai hal yang tidak menyenangkan; menurutnya, bahaya itu hanya bisa dihindari dengan mengorbankan seorang Kinnara.

Meski sangat kecewa, raja akhirnya setuju untuk mengorbankan Manohara. Setelah menempuh perjalanan panjang Sudhanakumara sampai di ibu kota kerajaan Kinnara. Raja Druma, ayah Manohara, bersedia menyambut Pangeran Sudhanakumara. Pangeran dengan meyakinkan menunjukkan keunggulannya dalam memanah, dan kemudian menunjukkan cinta sejatinya kepada Manohara dengan memilih istrinya di antara kerumunan Kinnara yang tampak identik dengannya.

Segera setelah dia terserap dalam lukisan dan anotasi, dan masuk ke dalam meditasi. Ia mencapai tingkat Srotapanna yaitu salah satu tingkat kesempurnaan. Saat itu Rudrayana menginginkan seorang pendeta Buddha di istananya, dan Bimbisara mengirim Mahakatyayana ke Roruka. Bimbisara mengutus suster Saila.

Ratu Chandraprabha sangat terkesan dengan ajaran Sang Buddha sehingga ketika kematiannya semakin dekat, dia memutuskan untuk menjadi seorang biarawati. Memang, setelah kematiannya, dia muncul sebagai dewi, dan membujuk pasangannya untuk mengikuti teladannya.

Sejumlah 135 panil relif pertama di seri atas pada langkan galeri pertama dikhususkan untuk 34 cerita legenda Jatakamala. Deretan 237 panil relif yang tersisa menggambarkan cerita dari sumber lain, seperti juga seri yang lebih rendah dan yang ada di langkan galeri kedua.

Kisah-kisah ini tidak semuanya jataka, akan tetapi juga mencakup beberapa kisah Avadana. Beberapa Jataka digambarkan dua kali, meski tidak dalam seri yang sama. Kisah Raja Sibhi ditampilkan di dinding utama dan langkan galeri pertama. Jataka tidak disusun secara kronologis dari reinkarnasi Bodhisattva sebagai hewan hingga kelahirannya kembali di surga, begitu pula reliefnya.

Jataka dan Awadana
Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Berwisata dan berkunjung dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik dan menjelajahi Borobudur sebagai bangunan suci Budha adalah sesuatu yang sangat istimewa, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, merupakan suatu bentuk Sebagai apresiasi dan turut serta melestarikan dan melindungi Borobudur yang merupakan situs warisan budaya dunia, Chandi Borobudur merupakan monumen terbesar di dunia.

Dalam penuturan sejarah Borobudur, ukiran panel relief yang terpahat pada dinding kaki candi disebutkan dalam teks Karmawibhangga, mengenai persembahan alas kaki yang disebut 'Upanat' kepada para brahmana.

Relief Cerita Borobudur
Salah satu relif dinding kaki candi teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.

Menjelaskan bahwa 'Upanat' adalah alas kaki yang digunakan ketika mengunjungi teras Candi Borobudur. Kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti tur tematik serta mengagumi kemegahan dan seni rupa monumen ini. Hal ini sebagai bentuk apresiasi dan mengenal Borobudur, serta berperan dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia di Borobudur, Indonesia.

Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Selamat datang, senang dengan perjalanan mengunjungi kemegahan chandi Borobudur, yang merupakan salah satu situs warisan budaya dunia dan sebagai destinasi wisata budaya di Indonesia. Keramahan pemandu wisata, akan mengantar dan memberikan narasi dalam mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur dalam panduan wisata sejarah Borobudur.

Chandi Borobudur
Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.
Chandi Borobudur or Barabudur
is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur, adalah candi megah dan kurang dikenal, gunung kebajikan, pertama adalah lanskap, yang lebih dari seribu tahun yang lalu, bertemu mata mereka yang datang berziarah ke sini untuk mencari kedamaian batin yang semua penganut Buddha bercita-cita.

Borobudur adalah monumen terbesar di dunia. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Jataka Awadana

Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan-perbuatan baik, seperti sikap rela berkorban dan suka menolong yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga. Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an. Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana. Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.
arisguide
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.

Relief Karmawibangga


Selamat datang di Borobudur, salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Kemegahan dan keindahan Borobudur mempunyai nilai sejarah tersendiri bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai objek wisata utama, dan juga tujuan wisata prioritas bagi pengunjung nusantara maupun mancanegara.

Chandi Borobudur menarik antusiasme yang luar biasa untuk mengunjungi dan mendalami beberapa sumber narasi dalam wisata tematik, dengan tujuan untuk mengenal lebih dekat sejarah, arsitektur, dan seni rupa bangunan ini.

Pemandu wisata yang ramah akan menemani dalam kesempatan menarik ini, memberikan narasi dan penjelasan sebagai wujud apresiasi atas kajian dan partisipasi dalam menjaga, melindungi dan melestarikan warisan budaya leluhur.

Chandi Borobudur merupakan candi Buddha terbesar di dunia, kemegahan dan keunikan arsitektur serta keindahan seni rupa yang ditampilkan Borobudur terpampang pada dinding dan langkan yang sangat indah, serta mempunyai nilai seni yang tinggi.

Kaki Candi Borobudur sudut tenggara (Hidden Foot). Relief Kaki Tersembunyi Karmawibhangga

Keindahan seni ukir relif Karmawibhangga naskah yang menggambarkan ajaran-ajaran mengenai karma dinding kaki tersembunyi Kamadhatu, Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Ukiran pada dinding Borobudur yang sangat bermakna bagi umat Buddha adalah cerita tentang kehidupan duniawi. Kisah ini sangat indah dalam budaya Buddha, cerita ini diambil dari naskah/teks Karmawibhangga. Salah satu cerita relief Borobudur di kaki candi yang tersembunyi dan saat ini tertutup adalah relief yang tertulis dalam teks Karmawibhangga yang merupakan cerita tentang kehidupan duniawi dan hukum sebab akibat.

Relief Karmawibhangga

Sesuai dengan makna simbolis yang terdapat pada kaki candi, panel-panel relief menghiasi dinding batur, yang saat ini tertutup dan tersembunyi menggambarkan tentang hukum karma. Karmawibhangga adalah naskah yang menggambarkan ajaran-ajaran mengenai karma, yakni sebab-akibat serta perbuatan baik dan jahat.

Deretan relief tersebut bukan merupakan cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai hubungan sebab akibat. Relief-relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia, disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan yang baik manusia dan pahala yang akan diperolehnya.

Relief Borobudur dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu relief naratif dan dekoratif. Sebanyak 1.460 panel relief naratif disusun dalam sebelas baris yang mengelilingi monumen dengan total panjang lebih dari 3000 m. Panel dekoratif 1212, meskipun disusun dalam barisan, diperlakukan sebagai relief individu.

Seri pertama dari 160 panel naratif berada di kaki tersembunyi dan tidak terlihat. Untungnya, satu set lengkap foto dibuat tidak lama setelah Borobudur ditemukan kembali, dan foto-foto itu dapat diidentifikasi sebagai cerita yang menggambarkan cara kerja hukum karma menurut teks/naskah Karmawibhangga.

Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan di akhiri untuk menuju kesempurnaan. Kini hanya bagian tenggara yang terbuka dan dapat dilihat oleh pengujung.

Kamadhatu

Bagian kaki atau dasar melambangkan dunia yang masih dikuasai oleh kama atau nafsu rendah. Bagian ini sebagian besar tidak dapat dilihat dan tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi.

Pada bagian kaki asli terdapat 160 panel relief cerita diambil dari teks Karmawibhangga yang pada saat ini tersembunyi. Sebagian kecil struktur tambahan yang ada di sudut tenggara dibuka sehingga dapat dilihat beberapa relief pada bagian ini. Struktur batu andesit kaki tambahan yang menutupi kaki asli ini kurang lebih memiliki volume 13.000 meter kubik.

Relief pada 'kaki tersembunyi' ini dikhususkan untuk hukum karma yang tak terhindarkan. Sebanyak 160 panel relief tidak menceritakan kisah atau cerita yang berkelanjutan, tetapi masing-masing memberikan satu ilustrasi lengkap tentang sebab dan akibat.

Sebanyak 117 panel relief pertama menunjukkan berbagai tindakan yang menghasilkan atau mengakibatkan satu hasil yang sama, sedangkan 43 panel relief lainnya menunjukkan banyak hasil yang dapat mengikuti dari satu jenis tindakan.

Menyalahkan aktivitas yang layak, dari gosip hingga pembunuhan, dengan hukuman api penyucian yang sesuai, dan aktivitas yang layak dipuji, seperti amal dan ziarah ke tempat suci, dan hadiah berikutnya, keduanya ditampilkan. Rasa sakit neraka dan kenikmatan surga, dan pemandangan kehidupan sehari-hari diwakili dalam panorama penuh samsara, siklus kelahiran dan kematian tanpa akhir, rantai dari semua bentuk keberadaan delusi yang darinya agama Buddha melepaskannya.

Karmawibhangga
Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Berwisata dan berkunjung dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik dan menjelajahi Borobudur sebagai bangunan suci Budha adalah sesuatu yang sangat istimewa, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, merupakan suatu bentuk Sebagai apresiasi dan turut serta melestarikan dan melindungi Borobudur yang merupakan situs warisan budaya dunia, Chandi Borobudur merupakan monumen terbesar di dunia.

Dalam penuturan sejarah Borobudur, ukiran panel relief yang terpahat pada dinding kaki candi disebutkan dalam teks Karmawibhangga, mengenai persembahan alas kaki yang disebut 'Upanat' kepada para brahmana.

Relief Cerita Borobudur
Salah satu relif dinding kaki candi teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.

Menjelaskan bahwa 'Upanat' adalah alas kaki yang digunakan ketika mengunjungi teras Candi Borobudur. Kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti tur tematik serta mengagumi kemegahan dan seni rupa monumen ini. Hal ini sebagai bentuk apresiasi dan mengenal Borobudur, serta berperan dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia di Borobudur, Indonesia.

Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Selamat datang, senang dengan perjalanan mengunjungi kemegahan chandi Borobudur, yang merupakan salah satu situs warisan budaya dunia dan sebagai destinasi wisata budaya di Indonesia. Keramahan pemandu wisata, akan mengantar dan memberikan narasi dalam mengagumi keindahan arsitektur dan seni rupa budaya leluhur dalam panduan wisata sejarah Borobudur.

Chandi Borobudur
Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9. Monumen ini terdiri atas enam teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, pada dindingnya dihiasi dengan 2.672 panel relief dan aslinya terdapat 504 arca Buddha. Borobudur memiliki koleksi relief Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.
Chandi Borobudur or Barabudur
is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur, candi megah dan kurang dikenal - gunung kebajikan - pertama adalah lanskap, yang lebih dari seribu tahun yang lalu, bertemu mata mereka yang datang berziarah ke sini untuk mencari kedamaian batin yang semua penganut Buddha bercita-cita.

Borobudur adalah monumen terbesar di dunia. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

arisguide
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.
Berwisata dan berkunjung dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik dan menjelajahi Borobudur sebagai bangunan suci Budha adalah sesuatu yang sangat istimewa, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, adalah suatu bentuk apresiasi dan turut serta dalam melestarikan dan melindungi Borobudur yang merupakan situs warisan budaya dunia, Chandi Borobudur merupakan monumen terbesar di dunia.

Arca Budha didalam stupa terbuka.

Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat kubah tengah, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur or Barabudur
is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Borobudur adalah monumen terbesar di dunia. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Kaki candi ----- Karmawibhangga

Salah satu ukiran Karmawibhangga didinding sudut tenggara yang sesuai dengan makna simbolis pada kaki candi, relief yang menghiasi dinding batur yang terselubung tersebut menggambarkan hukum karma.

Karmawibhangga adalah naskah yang menggambarkan ajaran mengenai karma, yakni sebab-akibat perbuatan baik dan jahat. Deretan relief tersebut bukan merupakan suatu cerita seri (serial), tetapi pada setiap pigura menggambarkan suatu cerita yang mempunyai hubungan sebab akibat. Relief tersebut tidak saja memberi gambaran terhadap perbuatan tercela manusia disertai dengan hukuman yang akan diperolehnya, tetapi juga perbuatan baik manusia dan pahala.

Kaki candi tersembunyi merupakan deretan relief yang ditulis dalam teks Karmawibhangga yaitu menjelaskan tentang gambaran ajaran karma. Secara keseluruhan merupakan penggambaran kehidupan manusia dalam lingkaran lahir - hidup - mati (samsara) yang tidak pernah berakhir, dan oleh agama Buddha rantai tersebutlah yang akan di akhiri untuk menuju kesempurnaan. Kini hanya bagian tenggara yang terbuka dan dapat dilihat oleh pengujung.
arisguide
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.

Relief Story of Lalitavistara

W elcome  to  Borobudur, one of the sacred buildings of Buddhism as a World Cultural Heritage site. The splendor and beauty of Borobudur has...