Tuesday, August 6, 2024

Relief Lalitavistara Borobudur


Selamat datang di Chandi Borobudur yang merupakan salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Borobudur dan kawasannya memiliki makna luhur dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia, sehingga semua mata terkesima dengan kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tersendiri sebagai daya tarik wisata utama, dan menjadi destinasi wisata prioritas bagi pengunjung nusantara dan juga mancanegara.

Chandi Borobudur dan kawasannya menarik antusiasme yang luar biasa untuk berwisata dan berkunjung, mengenal dan memperdalam narasi sejarah, arsitektur, dan seni rupa bangunan ini. Menikmati wisata tematik, mengagumi kemegahan dan keindahan arsitektur Borobudur, sebagai bentuk apresiasi dan partisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur Chandi Borobudur, bersama Pamong Carita.

Pamong Carita yang ramah akan menemani Anda dalam kesempatan menarik ini dengan memberikan narasi dan penjelasan yang bertujuan untuk mengenal dan mempelajari lebih dekat tentang Borobudur dan sekitarnya. Memperkenalkan 'Upanat', yaitu alas kaki khusus yang digunakan ketika mengunjungi teras-teras melalui koridor dengan rangkaian galeri panel relief, menuju ke puncak teras atas berbentuk lingkaran dengan deretan stupa di Candi Borobudur.

Menjelajahi narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa dalam wisata tematik, mengenal warisan budaya leluhur Candi Borobudur pada masa Jawa Kuno. Kemegahan dan keunikan arsitektur serta keindahan seni rupa yang ditampilkan Borobudur terpahat pada dinding dan langkan yang sangat indah, serta bernilai seni tinggi.

Ukiran pada dinding utama Borobudur yang sangat bermakna bagi umat Buddha merupakan cerita tentang kehidupan Sidharta Gautama. Kisah ini sangat indah dan indah dalam budaya Budha, cerita ini diambil dari naskah/teks Lalitavistara.

Seni ukir dinding dan langkan Borobudur
Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia agama Buddha. Keindahan seni ukir salah satunya adalah relif-relief Lalitavistara pada dinding Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Relief Lalitavistara

Chandi Borobudur kaya akan cerita relief, terdapat 1.460 ukiran cerita dan 1.212 ukiran hias yang indah dan anggun. Yang menggambarkan nilai seni estetis budaya Buddha adalah cerita di dinding utama tentang riwayat hidup Sidharta Gautama yang diambil dari naskah/teks Lalitavistara.

Lalitavistara adalah cerita atau naskah tentang penggambaran riwayat Sidharta Gautama dalam rangkaian deretan relief (tetapi bukan riwayat lengkap), yang digambarkan dan diukir pada dinding Borobudur, dimulai dari turunnya Sang Buddha dari Surga Tushita, dan diakhiri dengan khotbah atau wejangan pertama di Taman Rusa (Taman Kijang) dekat kota Banaras.

Relief Lalitavistara berjumlah 120 panel relief berderet dari tangga pintu masuk utama sebelah timur dan untuk membaca relief ini para pengunjung berjalan melalui serangkaian lorong dinding utama dengan cara Pradaksina yaitu berjalan mengelilingi lorong searah jarum jam. Berjalan kearah selatan, panel relief pada lorong lantai 2 dinding utama Borobudur pada panel relief deretan atas cerita dimulai.

Lalitavistara Sutra itu sendiri ditulis sekitar abad pertama sampai abad ketiga Masehi. Di dalam kitab ini terdapat beberapa aspek yang tua yang berasal dari legenda lisan, dan juga elemen-elemen yang telah berkembang belakangan yang tidak terdapat di versi riwayat Buddha yang lebih tua.

Kitab ini sangat terkenal bagi kalangan umat Buddha Mahayana dan Buddha Wajrayana, tetapi kurang begitu banyak diketahui bagi Buddhisme Therawada. Di antara semua seri panel relief yang ada di candi Borobudur, untuk identifikasi cerita panel relief tentang Lalitavistara adalah yang paling lengkap.

Berikut cerita singkat panel-panel relief dalam kitab Lalitavistara dirangkum sebagai berikut:

Lalitavistara

Awal Kelahiran Terakhir Buddha
Panel relief pada dinding utama atas menceritakan masa dimana para Dewa di Surga Tusita telah memberikan izin untuk mengabulkan keinginan Bodhisattva untuk turun ke dunia dan terlahir kembali sebagai Buddha, dengan tujuan memberikan bimbingan dan arahan, kepada umat manusia dan mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Dengan menjelma menjadi manusia bernama Buddha Gautama, Sidharta.

Di istana kerajaan Kapilawastu, Raja Sudhodana dan Ratu Maya sedang berbincang mendalam mengenai keinginan mereka untuk memiliki dan mempunyai seorang putra. Keinginan tersebut membuat mereka berdua bermeditasi, untuk memiliki anak.

Konon saat itu, di istana kerajaan, Dewi Maya, permaisuri Sudhodana, Raja Kapilavastu, bermimpi melihat seekor gajah putih bergading enam, lalu menyusup ke tubuh Ratu Maya. Gajah putih dalam mimpi turun dari surga Tusita dengan menunggangi bunga teratai, yang tidak lain adalah Bodhisattva sendiri. Pada saat yang sama, para dewa mengungkapkan rasa hormat yang mendalam dengan memujanya.

Kemudian karena kejadian mimpi itu belum dapat ditafsirkan maka timbullah keinginan Dewi Maya untuk menceritakan kepada Raja Sudhodana tentang mimpinya, tentang apa arti mimpinya. Begitu pula dengan Prabu Sudhodana, setelah memikirkan dan merenungi mimpi tersebut, akhirnya ia memutuskan untuk menanyakan arti mimpi tersebut kepada orang bijak, orang yang berakal, yaitu seorang Brahma yang bernama Asita.

Dalam kesempatan tersebut dijelaskan bahwa Ratu Dewi Maya akan mendapat anugerah yaitu sedang mengandung anak calon raja dunia. Dalam hatinya Dewi Maya sangat bahagia, namun keinginannya agar putranya menjadi orang bijak atau Brahma belum tercapai.

Berbeda sekali dengan penjelasan Brahma yang membuat hati Prabu Sudhodana merasa sangat bahagia, karena sudah cukup lama Prabu Sudhodana mendambakan seorang putra yang kelak menjadi pewaris takhta kerajaan raja selanjutnya.

Hal yang menggembirakan ini disambut dengan gembira oleh Raja Sudhodana dan kemudian dilaksanakan dengan cara berbagi yaitu memberikan hasidah kepada Asita dan Brahmana lainnya. Atas kejadian tersebut, para Dewa kemudian mempersembahkan surga kepada Dewi Maya.

Dalam perjalanan mengandung putra raja, kehidupan di istana menemui banyak keajaiban. Salah satunya adalah para Dewa Dewi Maya diperlihatkan tiga istana atau tiga tempat sekaligus. Tujuan dari ketiga istana ini adalah untuk menggambarkan ajaran Trikaya yaitu ajaran Dharmakaya, Sambhogakaya dan Nirmanakaya.

Sebelum kelahiran Buddha, di istana, Dewi Maya mampu melakukan berbagai keajaiban, hal-hal yang tidak dapat dilakukan oleh orang-orang di sekitar istana, termasuk mampu mengobati orang sakit dan cacat. Keajaiban juga terjadi di dalam istana, ketika singa dan gajah di luar istana memuja Raja Sudhodana.

Saat mendekati kelahiran, persiapan dilakukan di istana tempat Dewi Maya melakukan perjalanan untuk melahirkan Bodhisattva. Dewi Maya melahirkan dalam posisi berdiri sambil memegang dahan pohon di Taman Lumbini. 

Ketika Bodhisattva lahir, terdapat dua aliran air yang turun dari langit, aliran air yang satu dingin dan aliran air yang lain hangat. Arus tersebut kemudian mengalir deras ke tubuh Sidharta. Saat itu Sidharta terlahir bersih dan tak bernoda, berdiri tegak dan segera berjalan ke arah utara. Tempat dia berdiri ditutupi dengan bunga teratai. Seminggu setelah kelahirannya, konon Permaisuri Dewi Maya meninggal dunia.

Masa Kecil dan Remaja Sidharta
Asita kembali meramalkan bahwa kelak Pangeran Sidharta akan menjadi orang suci yaitu Budha. Ramalan ini membuat pikiran Raja Sudhodana sangat cemas karena kekhawatirannya adalah jika putranya besar nanti ia akan menjadi seorang Buddha. Hal ini menyebabkan kerajaan Kapilavastu tidak memiliki raja dan tidak ada seorang pun yang mewarisinya.Oleh karena itu, para petapa tersebut menyarankan kepada Raja Sudhodana agar Pangeran Sidharta dijauhkan dari empat peristiwa kehidupan. Jika tidak, kehidupan yang akan dijalaninya akan menjadikannya seorang petapa atau suci Buddha.

Sejak kecil Sidharta telah menunjukkan hal yang berbeda dari anak-anak lainnya, yaitu tumbuh menjadi anak yang cerdas. Saat menginjak usia tujuh tahun, sang pangeran sudah tertarik mempelajari ilmu pengetahuan. Konon wajah sang pangeran dipenuhi cahaya terang, sehingga saat pertama kali masuk sekolah sang guru pingsan karena melihat wajah sang pangeran yang bersinar.

Di usianya yang ke 16 tahun, tiba saatnya Sidharta mencari jodoh, memberinya cincin, menikah dengan memilih Putri Yasodhara yang dinikahi setelah Sidharta berhasil menjuarai beberapa perlombaan. Kemudian atas kemenangannya tersebut ia mendapat kehormatan dengan diberikan tiga istana megah dan istimewa, yaitu Istana Musim Dingin (Ramma), Istana Musim Panas (Suramma) dan Istana Musim Hujan (Subha). Hal ini dilakukan oleh ayahnya, Sudhodana sehubungan dengan perkataan dan nasehat sang petapa agar anaknya tidak diperbolehkan melihat empat peristiwa kehidupan.

Empat Pertemuan dan Pelepasan Agung Sidharta
Selang beberapa lama, kehidupan Sidharta sebagai putra raja, di tiga istana megah lengkap dengan segala sesuatunya terpenuhi. Sidharta menerima segala kemewahan seperti makanan, minuman, pakaian, pelayan yang setia dan selalu dijaga oleh para pengawal kerajaan, namun hal tersebut tidak membuat hidupnya menjadi lebih baik karena ia merasa bosan karena selalu berada di istana. Oleh karena itu, ia berpikir untuk dapat melihat situasi di luar istana.

Pada suatu hari Bodhisattva memiliki keinginan untuk melihat ke luar istana, maka ia meminta izin untuk berjalan ke luar istana. Di luar keraton kehidupan sangat berbeda, dengan adanya beberapa pengawal kerajaan yang pada kesempatan ditemui di luar keraton, mereka melihat empat keadaan kehidupan yang sangat bermakna dan nyata, yaitu: Orang tua, orang sakit, orang meninggal dan orang suci.

Melihat hal tersebut, tersirat dalam hatinya bahwa Sidharta sebenarnya sedang merasa sangat sedih. Sekejap merenung, keinginan untuk mengetahui membuatnya bertanya dalam hati tentang apa arti hidup ini. Ia beranggapan bahwa bertemu dengan orang suci adalah tentang kehidupan suci yang akan menjawab makna hidup yang sebenarnya.

Dalam hidupnya, pemikiran dan perenungan terhadap empat kehidupan yang dilihatnya telah membawanya menjalani berbagai bentuk kehidupan duniawi selama 10 tahun. Pergolakan yang dialami Sidharta terus berlanjut hingga suatu hari ia berusia 29 tahun, bertepatan dengan kelahiran anak pertamanya.

Suatu malam, keinginannya untuk meninggalkan istana memberinya kesempatan, Bodhisattva memutuskan untuk meninggalkan istana. Para pengawal yang ditarik kuda menemaninya membantu Sidharta, ia akan bertekad mencari dan melaksanakan pelepasan keduniawian besar dan hidup sebagai seorang petapa.

Bodhisattva merasa tubuhnya sangat lemah dan kematian hampir merenggut jiwanya. Namun dengan keinginan dan tekad sekuat baja, Bodhisattva akhirnya melanjutkan pertapaannya di bawah pohon Bodhi.

“Walaupun dagingku membusuk, tulang-tulangku berjatuhan, namun aku tidak akan meninggalkan tempat ini. Sampai aku mencapai pencerahan sempurna.”

Dikisahkan pula dengan berbagai siasat, upaya Dewi Mara menghentikan dan menggagalkan pertapaannya. Namun dengan segala usaha yang dilakukan Bodhisattva, keajaiban datang dan segala bahaya yang muncul untuk menggagalkan pertapaannya, dapat dihilangkan dengan mengubah setiap godaan menjadi sekuntum bunga.

Dan pada saat itu, tibalah waktunya bagi Bodhisattva untuk mencapai pencerahan sempurna. Bodhisattva akan menerima kebijaksanaan tertinggi yang memandu keselamatan akhir dan akan menjadi Buddha tepat pada bulan purnama tahun 531 SM. Hari kedelapan bulan ke-12.

Ketika telah mencapai pencerahan yang sempurna, tubuhnya terlihat memancarkan cahaya. Cahaya biru berarti pengabdian, kuning berarti kebijaksanaan dan pengetahuan, merah berarti cinta dan kasih sayang, sedangkan putih berarti kesucian.

Setelah Bodhisatwa mendapatkan pencerahan sempurna, Bodhisatwa dengan sopan menemui kelima temannya yang sebelumnya pernah menemaninya dan mengangkat mereka sebagai murid pertamanya. Dan konon pada suatu kesempatan yang begitu membahagiakan itu, kelima murid-murid itulah yang untuk pertama kali mendengarkan ajaran Sang Buddha, yakni ajaran keselamatan.

Lalitavistara
Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide.

Lorong dinding relief Cerita Borobudur

Keindahan seni ukir relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Berwisata dan berkunjung dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik dan menjelajahi Borobudur sebagai bangunan suci Budha adalah sesuatu yang sangat istimewa, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, adalah suatu bentuk apresiasi dan turut serta dalam melestarikan dan melindungi Borobudur yang merupakan situs warisan budaya dunia, Chandi Borobudur.

Dalam penuturan sejarah Borobudur, ukiran panel relief yang terpahat pada dinding kaki candi disebutkan dalam teks Karmawibhangga, mengenai persembahan alas kaki yang disebut 'Upanat' kepada para brahmana.

Upanat Borobudur

Pemberian alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber:  Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.





Upanat Borobudur
Salah satu relif dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Menjelaskan bahwa 'Upanat' adalah alas kaki yang digunakan ketika mengunjungi teras Candi Borobudur. Kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti tur tematik serta mengagumi kemegahan dan seni rupa monumen ini. Hal ini sebagai bentuk apresiasi dan mengenal Borobudur, serta berperan dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia di Borobudur, Indonesia.

Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Borobudur

Candi Borobudur adalah candi Buddha Mahayana, dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan bentuk arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia adalah pemujaan leluhur dan konsep agama Buddha untuk mencapai Nirvana. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat stupa besar, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur or Barabudur
is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Chandi Borobudur, adalah candi megah dan kurang dikenal, gunung kebajikan, pertama adalah lanskap, yang lebih dari seribu tahun yang lalu, bertemu mata mereka yang datang berziarah ke sini untuk mencari kedamaian batin yang semua penganut Buddha bercita-cita.


Borobudur adalah monumen terbesar di dunia. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

arisguide
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.

Jataka Avadana Borobudur


Selamat datang di Chandi Borobudur yang merupakan salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Borobudur dan kawasannya mempunyai makna luhur dan bersejarah bagi bangsa Indonesia, sehingga membuat semua mata dunia terkesima dengan kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tersendiri sebagai daya tarik wisata utama, dan menjadi destinasi wisata prioritas bagi pengunjung nusantara dan juga mancanegara.

Chandi Borobudur dan kawasannya telah menarik antusiasme yang luar biasa untuk berwisata dan berkunjung dalam wisata tematik, dengan tujuan untuk mengenal dan memperdalam narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa bangunan ini. Menikmati pembelajaran sejarah, mengikuti wisata tematik serta mengagumi kemegahan dan keindahan arsitektur Borobudur, merupakan bentuk apresiasi dan partisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur bersama Pamong Carita.

Pamong Carita yang ramah akan menemani dengan memberikan narasi dan penjelasan untuk mengetahui lebih jauh tentang Borobudur dan sekitarnya. Memperkenalkan 'Upanat', yaitu alas kaki khusus yang digunakan ketika mengunjungi teras-teras melalui koridor dengan rangkaian galeri panel relief, menuju ke puncak teras atas berbentuk lingkaran dengan deretan stupa di Candi Borobudur.

Berwisata bersama Pamong Carita, mengenal Borobudur dan sekitarnya, mendalami narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa warisan budaya leluhur sejarah keberadaan Candi Borobudur pada masa Jawa Kuno. Kemegahan dan keunikan arsitektur serta keindahan seni rupa yang ditampilkan Borobudur terpampang pada dinding dan langkan yang sangat indah, serta bernilai seni tinggi.

Ukiran yang dipahat pada dinding Borobudur, salah satu relief cerita terindah dalam agama Budha, menceritakan kisah penggambaran tokoh cerita Jataka dan Awadana. Relif bercerita tentang perbuatan baik dan mempunyai nilai moral yang tinggi serta sangat berarti bagi umat Buddha dalam kehidupan.

Seni ukir dinding dan langkan Borobudur
Keindahan seni ukir salah satunya adalah relif-relief Jataka dan Awadana pada dinding Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Jataka Avadana

Jataka dan Avadana diperlakukan dalam satu rangkaian yang sama tanpa perbedaan yang nyata pada relief-relief Candi Borobudur. Tidak ada sistem pergantian tertentu yang terbukti. Relief-relief cerita Jataka dan Awadana di dinding Borobudur berderet dari sisi timur dan terdapat pada deretan panil relief di pagar langkan rangkaian atas, tersusun secara indah dengan pahatan yang halus dan mempunyai nilai estetika seni rupa yang elok.

Berjalan dari sisi timur akan dijumpai berderet dua puluh panel pertama di dinding utama galeri pertama yang menggambarkan tentang perjalanan Sudhanakumaravadana atau karya suci Sudhana. Dengan jumlah 135 panil relief bagian dinding atas pertama di galeri yang sama di pagar langkan dikhususkan untuk 34 legenda cerita Jatakamala. Sedangkan sisanya 237 panel relief menggambarkan tentang cerita-cerita dari sumber yang lainnya, seperti halnya seri dan panel relief yang lebih rendah atau bagian bawah di galeri kedua.

Deretan relief di dinding galeri pertama sebagian besar menggambarkan avadana. Beberapa jataka dimasukkan melalui variasi. Sistem di baris atas rangkaian pagar langkan sangat berbeda. Reliefnya hampir semua cerita Jataka, dengan hanya beberapa cerita Avadana.

Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan-perbuatan baik, seperti sikap rela berkorban dan suka menolong yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga.

Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana.

Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Relif-relif cerita Jataka dan Awadana di candi Borobudur berderet dari sisi timur dan berada pada tingkat I pada deretan panil relif di pagar langkan rangkaian atas, tersusun dengan indah dengan pahatan yang halus dengan nilai estetika seni rupa kebudayaan Borobudur yang elok.

Berjalan dari sisi timur akan dijumpai berderet dua puluh panel pertama di galeri pertama di dinding yang menggambarkan tentang Sudhanakumaravadana, atau karya suci Sudhana. Dengan jumlah relif 135 panil atas pertama di galeri yang sama di langkan dikhususkan untuk 34 legenda Jatakamala. Sisanya 237 panel menggambarkan cerita dari sumber lain, seperti halnya seri dan panel yang lebih rendah di galeri kedua. Beberapa jataka digambarkan dua kali, misalnya kisah Raja Sibhi (nenek moyang Rama).

Jataka

Langkan: Jataka dan Avadana
Cerita Jataka di candi Borobudur merupakan cerita tentang Sang Buddha sebelum ia dilahirkan sebagai Pangeran Siddhartha, yang berada pada deretan dinding lorong yang berisi tentang kisah-kisah yang menceritakan tentang kehidupan sebelumnya Sang Buddha, baik dalam bentuk manusia maupun hewan. Buddha masa depan mungkin muncul di dalam diri mereka sebagai raja, orang buangan, dewa, atau dalam bentuk satwa gajah, akan tetapi dalam bentuk apa pun, ia menunjukkan beberapa kebajikan yang diceritakan oleh kisah tersebut.

Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Beberapa kisah Jataka di candi Borobudur yang dapat dilihat pada dinding pagar langkan sebagai contoh adalah sebagai berikut:

Ketika Bodhisatwa lahir sebagai Kura-Kura raksasa
Contoh pengorbanan diri yang mencolok ditunjukkan oleh Bodhisattva ketika ia dilahirkan sebagai kura-kura raksasa.

Suatu hari lima ratus pedagang karam, dan berjuang mati-matian melawan ombak. Sang Bodhisattva muncul, membawa kelima ratus orang itu di punggungnya, dan membawa mereka dengan selamat ke pantai.

Kura-kura itu kelelahan, dan tertidur. Para pedagang, yang tersiksa oleh kelaparan, memutuskan untuk membunuh kura-kura tersebut dan memakan dagingnya. Bodhisattva bangun, dan ketika dia mengerti apa yang sedang terjadi, dia merasa kasihan pada para pedagang yang kelaparan. Dia menawari mereka tubuhnya untuk dimakan, dan dengan demikian orang-orang yang tidak beruntung diselamatkan.

Kisah Burung Puyuh dan Kebakaran Hutan
Relief ini terletak pada dinding di sisi sebelah selatan pada pagar langkan rangkaian atas dinding Borobudur.

Satu keluarga burung Puyuh hidup bersarang di hutan. Seekor anaknya ada yang tidak mau makan makhluk hidup yang dibawakan ibunya. Ia hanya makan tumbuh-tumbuhan dan biji-bijian. Akhirnya ia terlihat tidak tumbuh dengan baik. Ia tidak bisa terbang karena tidak memiliki bulu di sayapnya.

Tanpa di ketahui sebabnya, tiba-tiba terjadi kebakaran hutan. Semua binatang yang berada di hutan kebingungan dan ketakutan berusaha mencari perlindungan. Binatang-binatang itu heran melihat seekor burung yang lemah, tidak memiliki bulu sehingga tidak bisa terbang, tetap tenang di sarangnya dan api terlihat tidak bisa membakarnya.

Berkat sikap dan perilakunya yang tidak mau makan sesama makhluk hidup serta selalu berbuat baik, maka doanya agar selamat dari api telah dikabulkan oleh dewa. Meskipun tidak bisa lari, ia tetap tenang dan ternyata api memang padam didekat sarangnya.

Kisah Bodhisattva Terlahir Sebagai Kelinci

Menyebutkan Bodhisattva pernah terlahir sebagai seekor Kelinci. Teman-teman terdekatnya adalah seekor Berang-berang, Serigala, dan Monyet. Pada suatu hari ingin menguji Kelinci, Dewa Sakra muncul di hutan dalam wujud seorang Brahmana yang tersesat dan kelaparan.

Keempat sahabat itu bergegas menemui Brahmana dan memberikan bantuan. Berang-berang membawa tujuh ekor ikan, Serigala membawa seekor kadal, dan monyet membawa buah-buahan yang matang. Pada saat Kelinci tidak bisa menawarkan apapun. Kemudian Brahmana menyalakan api untuk persembahan, dan segera Kelinci itu melompat ke dalam api tersebut, mempersembahkan dirinya sebagai hewan kurban.

Raja para dewa mengagumi perbuatan suci itu, dan sambil kembali ke wujudnya sendiri, dia memuji Kelinci atas pengorbanan dirinya.

Kisah Burung Pelatuk dan Seekor Singa
Relief ini berada pada sisi sebelah selatan dalam deretan panil relif di pagar langkan rangkaian atas.

Kisah yang menceritakan di dalam sebuah hutan hidup burung yang baik hati. Ia berbulu indah dan tidak mau menyakiti makhluk lainnya. Oleh karena itu ia merasa cukup hanya makan bunga, daun dan buah-buahan.

Pada suatu hari, burung Pelatuk melihat seekor Singa yang kesakitan karena sebatang tulang menyangkut di tenggorokannya. Burung Pelatuk memerintahkan Singa untuk membuka mulutnya lebar-lebar dan dengan sebatang kayu yang diletakkan berdiri tegak di antara rahangnya maka mulut Singa dapat terbuka. Burung Pelatuk akhirnya dapat mengeluarkan tulang dari tenggorokan Singa dengan patuknya.

Suatu saat, burung Pelatuk kelaparan dan kebetulan melihat Singa yang dulu pernah ditolongnya sedang memakan daging rusa. Burung Pelatuk memohon kepada Singa agar diberi sedikit daging tetapi Singa tidak memberinya dan bahkan mengusir burung Pelatuk. Burung Pelatuk berlalu pergi meninggalkan Singa tersebut dan tidak menaruh dendam padanya. Meskipun Dewa menyarankan agar burung Pelatuk mematuk mata Singa tersebut agar menjadi buta, tetapi burung Pelatuk tidak mau melakukannya.

Avadana

Awadana merupakan cerita yang pada dasarnya mempunyai persamaan dengan cerita Jataka, akan tetapi yang diceritakan bukan tokoh pelakunya Sang Bodhisattwa. Cerita Avadana yang berhubungan dengan cerita Jataka, yang tokoh utamanya bukan Bodhisattva sendiri, berkisah tentang perbuatan akhlak suci dalam avadana yang dikaitkan dengan orang-orang yang legendaris dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana.

Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Sejumlah 20 panel relif pertama di seri bawah pada dinding utama galeri pertama merupakan panil cerita yang menggambarkan tentang tokoh yang bernama Sudhanakumaravadana atau Perbuatan Suci dari Pangeran Sudhanakumara, yang berasal dari teks Divyavadana.

Cerita dimulai dengan persaingan dua kerajaan: kerajaan Panchala Utara yang makmur, dan kerajaan Panchala Selatan yang dilanda kemiskinan. Raja Selatan menyadari bahwa Panchala Utara berutang kemakmuran kepada seorang Naga bernama Janmachitraka, yang bersahabat dengan saingannya, dan memastikan curah hujan teratur.

Dia memutuskan untuk memohon bantuan dari seorang pawang ular yang sakti untuk memindahkan Naga ke Panchala Selatan. Atas jasanya, pemburu dihibur oleh keluarga Naga dan dihadiahi permata yang tak ternilai harganya. Namun, seorang peramal menasihati Halaka untuk mengambil laso yang tidak pernah gagal yang dimiliki oleh para Naga.

Pangeran Sudhanakumara menunjuk seorang brahmana sebagai calon pendeta istananya, yang membuat kesal pendeta tinggi ayahnya, yang melihat masa depannya lenyap menjadi asap. Putra mahkota meminta ibunya untuk menjaga Manohara, dan berbaris keluar.

Tanpa diduga dia menikmati dukungan penuh dari raja Yaksa (setan yang baik hati), yang bergabung dalam ekspedisi dengan pasukannya yang sangat besar. Sementara itu, mimpi raja yang tidak menyenangkan ditafsirkan oleh imam besar yang ganas sebagai hal yang tidak menyenangkan; menurutnya, bahaya itu hanya bisa dihindari dengan mengorbankan seorang Kinnara.

Meski sangat kecewa, raja akhirnya setuju untuk mengorbankan Manohara. Setelah menempuh perjalanan panjang Sudhanakumara sampai di ibu kota kerajaan Kinnara. Raja Druma, ayah Manohara, bersedia menyambut Pangeran Sudhanakumara. Pangeran dengan meyakinkan menunjukkan keunggulannya dalam memanah, dan kemudian menunjukkan cinta sejatinya kepada Manohara dengan memilih istrinya di antara kerumunan Kinnara yang tampak identik dengannya.

Segera setelah dia terserap dalam lukisan dan anotasi, dan masuk ke dalam meditasi. Ia mencapai tingkat Srotapanna yaitu salah satu tingkat kesempurnaan. Saat itu Rudrayana menginginkan seorang pendeta Buddha di istananya, dan Bimbisara mengirim Mahakatyayana ke Roruka. Bimbisara mengutus suster Saila.

Ratu Chandraprabha sangat terkesan dengan ajaran Sang Buddha sehingga ketika kematiannya semakin dekat, dia memutuskan untuk menjadi seorang biarawati. Memang, setelah kematiannya, dia muncul sebagai dewi, dan membujuk pasangannya untuk mengikuti teladannya.

Sejumlah 135 panil relif pertama di seri atas pada langkan galeri pertama dikhususkan untuk 34 cerita legenda Jatakamala. Deretan 237 panil relif yang tersisa menggambarkan cerita dari sumber lain, seperti juga seri yang lebih rendah dan yang ada di langkan galeri kedua.

Kisah-kisah ini tidak semuanya jataka, akan tetapi juga mencakup beberapa kisah Avadana. Beberapa Jataka digambarkan dua kali, meski tidak dalam seri yang sama. Kisah Raja Sibhi ditampilkan di dinding utama dan langkan galeri pertama. Jataka tidak disusun secara kronologis dari reinkarnasi Bodhisattva sebagai hewan hingga kelahirannya kembali di surga, begitu pula reliefnya.

Jataka dan Awadana
Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Lorong dinding relief Cerita Borobudur

Keindahan seni ukir relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Berwisata dan berkunjung dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik dan menjelajahi Borobudur sebagai bangunan suci Budha adalah sesuatu yang sangat istimewa, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, merupakan suatu bentuk Sebagai apresiasi dan turut serta melestarikan dan melindungi Borobudur yang merupakan situs warisan budaya dunia.

Dalam penuturan sejarah Borobudur, ukiran panel relief yang terpahat pada dinding kaki candi disebutkan dalam teks Karmawibhangga, mengenai persembahan alas kaki yang disebut 'Upanat' kepada para brahmana.

Upanat Borobudur

Pemberian alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber:  Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.





Upanat Borobudur
Salah satu relif dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Menjelaskan bahwa 'Upanat' adalah alas kaki yang digunakan ketika mengunjungi teras Candi Borobudur. Kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti tur tematik serta mengagumi kemegahan dan seni rupa monumen ini. Hal ini sebagai bentuk apresiasi dan mengenal Borobudur, serta berperan dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia di Borobudur, Indonesia.

Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Borobudur

Candi Borobudur adalah candi Buddha Mahayana, dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan bentuk arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia adalah pemujaan leluhur dan konsep agama Buddha untuk mencapai Nirvana. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat stupa besar, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur or Barabudur
is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.



Chandi Borobudur, adalah candi megah dan kurang dikenal, gunung kebajikan, pertama adalah lanskap, yang lebih dari seribu tahun yang lalu, bertemu mata mereka yang datang berziarah ke sini untuk mencari kedamaian batin yang semua penganut Buddha bercita-cita.

Borobudur adalah monumen terbesar di dunia. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

arisguide
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.

Relief Story of Lalitavistara

W elcome  to  Borobudur, one of the sacred buildings of Buddhism as a World Cultural Heritage site. The splendor and beauty of Borobudur has...