Tuesday, August 6, 2024

Jataka Avadana Borobudur


Selamat datang di Chandi Borobudur yang merupakan salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Borobudur dan kawasannya mempunyai makna luhur dan bersejarah bagi bangsa Indonesia, sehingga membuat semua mata dunia terkesima dengan kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tersendiri sebagai daya tarik wisata utama, dan menjadi destinasi wisata prioritas bagi pengunjung nusantara dan juga mancanegara.

Chandi Borobudur dan kawasannya telah menarik antusiasme yang luar biasa untuk berwisata dan berkunjung dalam wisata tematik, dengan tujuan untuk mengenal dan memperdalam narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa bangunan ini. Menikmati pembelajaran sejarah, mengikuti wisata tematik serta mengagumi kemegahan dan keindahan arsitektur Borobudur, merupakan bentuk apresiasi dan partisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur bersama Pamong Carita.

Pamong Carita yang ramah akan menemani dengan memberikan narasi dan penjelasan untuk mengetahui lebih jauh tentang Borobudur dan sekitarnya. Memperkenalkan 'Upanat', yaitu alas kaki khusus yang digunakan ketika mengunjungi teras-teras melalui koridor dengan rangkaian galeri panel relief, menuju ke puncak teras atas berbentuk lingkaran dengan deretan stupa di Candi Borobudur.

Berwisata bersama Pamong Carita, mengenal Borobudur dan sekitarnya, mendalami narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa warisan budaya leluhur sejarah keberadaan Candi Borobudur pada masa Jawa Kuno. Kemegahan dan keunikan arsitektur serta keindahan seni rupa yang ditampilkan Borobudur terpampang pada dinding dan langkan yang sangat indah, serta bernilai seni tinggi.

Ukiran yang dipahat pada dinding Borobudur, salah satu relief cerita terindah dalam agama Budha, menceritakan kisah penggambaran tokoh cerita Jataka dan Awadana. Relif bercerita tentang perbuatan baik dan mempunyai nilai moral yang tinggi serta sangat berarti bagi umat Buddha dalam kehidupan.

Seni ukir dinding dan langkan Borobudur
Keindahan seni ukir salah satunya adalah relif-relief Jataka dan Awadana pada dinding Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Jataka Avadana

Jataka dan Avadana diperlakukan dalam satu rangkaian yang sama tanpa perbedaan yang nyata pada relief-relief Candi Borobudur. Tidak ada sistem pergantian tertentu yang terbukti. Relief-relief cerita Jataka dan Awadana di dinding Borobudur berderet dari sisi timur dan terdapat pada deretan panil relief di pagar langkan rangkaian atas, tersusun secara indah dengan pahatan yang halus dan mempunyai nilai estetika seni rupa yang elok.

Berjalan dari sisi timur akan dijumpai berderet dua puluh panel pertama di dinding utama galeri pertama yang menggambarkan tentang perjalanan Sudhanakumaravadana atau karya suci Sudhana. Dengan jumlah 135 panil relief bagian dinding atas pertama di galeri yang sama di pagar langkan dikhususkan untuk 34 legenda cerita Jatakamala. Sedangkan sisanya 237 panel relief menggambarkan tentang cerita-cerita dari sumber yang lainnya, seperti halnya seri dan panel relief yang lebih rendah atau bagian bawah di galeri kedua.

Deretan relief di dinding galeri pertama sebagian besar menggambarkan avadana. Beberapa jataka dimasukkan melalui variasi. Sistem di baris atas rangkaian pagar langkan sangat berbeda. Reliefnya hampir semua cerita Jataka, dengan hanya beberapa cerita Avadana.

Jataka adalah berbagai cerita tentang Sang Buddha sebelum dilahirkan sebagai Pangeran Siddharta. Isinya merupakan pokok penonjolan perbuatan-perbuatan baik, seperti sikap rela berkorban dan suka menolong yang membedakan Sang Bodhisattwa dari makhluk lain manapun juga.

Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Sedangkan Awadana, pada dasarnya hampir sama dengan Jataka akan tetapi pelakunya bukan Sang Bodhisattwa, melainkan orang lain dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana.

Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Relif-relif cerita Jataka dan Awadana di candi Borobudur berderet dari sisi timur dan berada pada tingkat I pada deretan panil relif di pagar langkan rangkaian atas, tersusun dengan indah dengan pahatan yang halus dengan nilai estetika seni rupa kebudayaan Borobudur yang elok.

Berjalan dari sisi timur akan dijumpai berderet dua puluh panel pertama di galeri pertama di dinding yang menggambarkan tentang Sudhanakumaravadana, atau karya suci Sudhana. Dengan jumlah relif 135 panil atas pertama di galeri yang sama di langkan dikhususkan untuk 34 legenda Jatakamala. Sisanya 237 panel menggambarkan cerita dari sumber lain, seperti halnya seri dan panel yang lebih rendah di galeri kedua. Beberapa jataka digambarkan dua kali, misalnya kisah Raja Sibhi (nenek moyang Rama).

Jataka

Langkan: Jataka dan Avadana
Cerita Jataka di candi Borobudur merupakan cerita tentang Sang Buddha sebelum ia dilahirkan sebagai Pangeran Siddhartha, yang berada pada deretan dinding lorong yang berisi tentang kisah-kisah yang menceritakan tentang kehidupan sebelumnya Sang Buddha, baik dalam bentuk manusia maupun hewan. Buddha masa depan mungkin muncul di dalam diri mereka sebagai raja, orang buangan, dewa, atau dalam bentuk satwa gajah, akan tetapi dalam bentuk apa pun, ia menunjukkan beberapa kebajikan yang diceritakan oleh kisah tersebut.

Beberapa kisah Jataka menampilkan kisah fabel yakni kisah yang melibatkan tokoh satwa yang bersikap dan berpikir seperti manusia. Sesungguhnya, pengumpulan jasa atau perbuatan baik merupakan tahapan persiapan dalam usaha menuju ketingkat ke-Buddha-an.

Beberapa kisah Jataka di candi Borobudur yang dapat dilihat pada dinding pagar langkan sebagai contoh adalah sebagai berikut:

Ketika Bodhisatwa lahir sebagai Kura-Kura raksasa
Contoh pengorbanan diri yang mencolok ditunjukkan oleh Bodhisattva ketika ia dilahirkan sebagai kura-kura raksasa.

Suatu hari lima ratus pedagang karam, dan berjuang mati-matian melawan ombak. Sang Bodhisattva muncul, membawa kelima ratus orang itu di punggungnya, dan membawa mereka dengan selamat ke pantai.

Kura-kura itu kelelahan, dan tertidur. Para pedagang, yang tersiksa oleh kelaparan, memutuskan untuk membunuh kura-kura tersebut dan memakan dagingnya. Bodhisattva bangun, dan ketika dia mengerti apa yang sedang terjadi, dia merasa kasihan pada para pedagang yang kelaparan. Dia menawari mereka tubuhnya untuk dimakan, dan dengan demikian orang-orang yang tidak beruntung diselamatkan.

Kisah Burung Puyuh dan Kebakaran Hutan
Relief ini terletak pada dinding di sisi sebelah selatan pada pagar langkan rangkaian atas dinding Borobudur.

Satu keluarga burung Puyuh hidup bersarang di hutan. Seekor anaknya ada yang tidak mau makan makhluk hidup yang dibawakan ibunya. Ia hanya makan tumbuh-tumbuhan dan biji-bijian. Akhirnya ia terlihat tidak tumbuh dengan baik. Ia tidak bisa terbang karena tidak memiliki bulu di sayapnya.

Tanpa di ketahui sebabnya, tiba-tiba terjadi kebakaran hutan. Semua binatang yang berada di hutan kebingungan dan ketakutan berusaha mencari perlindungan. Binatang-binatang itu heran melihat seekor burung yang lemah, tidak memiliki bulu sehingga tidak bisa terbang, tetap tenang di sarangnya dan api terlihat tidak bisa membakarnya.

Berkat sikap dan perilakunya yang tidak mau makan sesama makhluk hidup serta selalu berbuat baik, maka doanya agar selamat dari api telah dikabulkan oleh dewa. Meskipun tidak bisa lari, ia tetap tenang dan ternyata api memang padam didekat sarangnya.

Kisah Bodhisattva Terlahir Sebagai Kelinci

Menyebutkan Bodhisattva pernah terlahir sebagai seekor Kelinci. Teman-teman terdekatnya adalah seekor Berang-berang, Serigala, dan Monyet. Pada suatu hari ingin menguji Kelinci, Dewa Sakra muncul di hutan dalam wujud seorang Brahmana yang tersesat dan kelaparan.

Keempat sahabat itu bergegas menemui Brahmana dan memberikan bantuan. Berang-berang membawa tujuh ekor ikan, Serigala membawa seekor kadal, dan monyet membawa buah-buahan yang matang. Pada saat Kelinci tidak bisa menawarkan apapun. Kemudian Brahmana menyalakan api untuk persembahan, dan segera Kelinci itu melompat ke dalam api tersebut, mempersembahkan dirinya sebagai hewan kurban.

Raja para dewa mengagumi perbuatan suci itu, dan sambil kembali ke wujudnya sendiri, dia memuji Kelinci atas pengorbanan dirinya.

Kisah Burung Pelatuk dan Seekor Singa
Relief ini berada pada sisi sebelah selatan dalam deretan panil relif di pagar langkan rangkaian atas.

Kisah yang menceritakan di dalam sebuah hutan hidup burung yang baik hati. Ia berbulu indah dan tidak mau menyakiti makhluk lainnya. Oleh karena itu ia merasa cukup hanya makan bunga, daun dan buah-buahan.

Pada suatu hari, burung Pelatuk melihat seekor Singa yang kesakitan karena sebatang tulang menyangkut di tenggorokannya. Burung Pelatuk memerintahkan Singa untuk membuka mulutnya lebar-lebar dan dengan sebatang kayu yang diletakkan berdiri tegak di antara rahangnya maka mulut Singa dapat terbuka. Burung Pelatuk akhirnya dapat mengeluarkan tulang dari tenggorokan Singa dengan patuknya.

Suatu saat, burung Pelatuk kelaparan dan kebetulan melihat Singa yang dulu pernah ditolongnya sedang memakan daging rusa. Burung Pelatuk memohon kepada Singa agar diberi sedikit daging tetapi Singa tidak memberinya dan bahkan mengusir burung Pelatuk. Burung Pelatuk berlalu pergi meninggalkan Singa tersebut dan tidak menaruh dendam padanya. Meskipun Dewa menyarankan agar burung Pelatuk mematuk mata Singa tersebut agar menjadi buta, tetapi burung Pelatuk tidak mau melakukannya.

Avadana

Awadana merupakan cerita yang pada dasarnya mempunyai persamaan dengan cerita Jataka, akan tetapi yang diceritakan bukan tokoh pelakunya Sang Bodhisattwa. Cerita Avadana yang berhubungan dengan cerita Jataka, yang tokoh utamanya bukan Bodhisattva sendiri, berkisah tentang perbuatan akhlak suci dalam avadana yang dikaitkan dengan orang-orang yang legendaris dan ceritanya dihimpun dalam kitab Diwyawadana yang berarti perbuatan mulia kedewaan, dan kitab Awadanasataka atau seratus cerita Awadana.

Pada relief candi Borobudur Jataka dan Awadana, diperlakukan sama, artinya keduanya terdapat dalam deretan yang sama tanpa dibedakan. Himpunan yang paling terkenal dari kehidupan Sang Bodhisattwa adalah Jatakamala atau untaian cerita Jataka, karya penyair Aryasura yang hidup dalam abad ke-4 Masehi.

Sejumlah 20 panel relif pertama di seri bawah pada dinding utama galeri pertama merupakan panil cerita yang menggambarkan tentang tokoh yang bernama Sudhanakumaravadana atau Perbuatan Suci dari Pangeran Sudhanakumara, yang berasal dari teks Divyavadana.

Cerita dimulai dengan persaingan dua kerajaan: kerajaan Panchala Utara yang makmur, dan kerajaan Panchala Selatan yang dilanda kemiskinan. Raja Selatan menyadari bahwa Panchala Utara berutang kemakmuran kepada seorang Naga bernama Janmachitraka, yang bersahabat dengan saingannya, dan memastikan curah hujan teratur.

Dia memutuskan untuk memohon bantuan dari seorang pawang ular yang sakti untuk memindahkan Naga ke Panchala Selatan. Atas jasanya, pemburu dihibur oleh keluarga Naga dan dihadiahi permata yang tak ternilai harganya. Namun, seorang peramal menasihati Halaka untuk mengambil laso yang tidak pernah gagal yang dimiliki oleh para Naga.

Pangeran Sudhanakumara menunjuk seorang brahmana sebagai calon pendeta istananya, yang membuat kesal pendeta tinggi ayahnya, yang melihat masa depannya lenyap menjadi asap. Putra mahkota meminta ibunya untuk menjaga Manohara, dan berbaris keluar.

Tanpa diduga dia menikmati dukungan penuh dari raja Yaksa (setan yang baik hati), yang bergabung dalam ekspedisi dengan pasukannya yang sangat besar. Sementara itu, mimpi raja yang tidak menyenangkan ditafsirkan oleh imam besar yang ganas sebagai hal yang tidak menyenangkan; menurutnya, bahaya itu hanya bisa dihindari dengan mengorbankan seorang Kinnara.

Meski sangat kecewa, raja akhirnya setuju untuk mengorbankan Manohara. Setelah menempuh perjalanan panjang Sudhanakumara sampai di ibu kota kerajaan Kinnara. Raja Druma, ayah Manohara, bersedia menyambut Pangeran Sudhanakumara. Pangeran dengan meyakinkan menunjukkan keunggulannya dalam memanah, dan kemudian menunjukkan cinta sejatinya kepada Manohara dengan memilih istrinya di antara kerumunan Kinnara yang tampak identik dengannya.

Segera setelah dia terserap dalam lukisan dan anotasi, dan masuk ke dalam meditasi. Ia mencapai tingkat Srotapanna yaitu salah satu tingkat kesempurnaan. Saat itu Rudrayana menginginkan seorang pendeta Buddha di istananya, dan Bimbisara mengirim Mahakatyayana ke Roruka. Bimbisara mengutus suster Saila.

Ratu Chandraprabha sangat terkesan dengan ajaran Sang Buddha sehingga ketika kematiannya semakin dekat, dia memutuskan untuk menjadi seorang biarawati. Memang, setelah kematiannya, dia muncul sebagai dewi, dan membujuk pasangannya untuk mengikuti teladannya.

Sejumlah 135 panil relif pertama di seri atas pada langkan galeri pertama dikhususkan untuk 34 cerita legenda Jatakamala. Deretan 237 panil relif yang tersisa menggambarkan cerita dari sumber lain, seperti juga seri yang lebih rendah dan yang ada di langkan galeri kedua.

Kisah-kisah ini tidak semuanya jataka, akan tetapi juga mencakup beberapa kisah Avadana. Beberapa Jataka digambarkan dua kali, meski tidak dalam seri yang sama. Kisah Raja Sibhi ditampilkan di dinding utama dan langkan galeri pertama. Jataka tidak disusun secara kronologis dari reinkarnasi Bodhisattva sebagai hewan hingga kelahirannya kembali di surga, begitu pula reliefnya.

Jataka dan Awadana
Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Lorong dinding relief Cerita Borobudur

Keindahan seni ukir relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Berwisata dan berkunjung dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik dan menjelajahi Borobudur sebagai bangunan suci Budha adalah sesuatu yang sangat istimewa, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, merupakan suatu bentuk Sebagai apresiasi dan turut serta melestarikan dan melindungi Borobudur yang merupakan situs warisan budaya dunia.

Dalam penuturan sejarah Borobudur, ukiran panel relief yang terpahat pada dinding kaki candi disebutkan dalam teks Karmawibhangga, mengenai persembahan alas kaki yang disebut 'Upanat' kepada para brahmana.

Upanat Borobudur

Pemberian alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber:  Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.





Upanat Borobudur
Salah satu relif dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber: Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Menjelaskan bahwa 'Upanat' adalah alas kaki yang digunakan ketika mengunjungi teras Candi Borobudur. Kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti tur tematik serta mengagumi kemegahan dan seni rupa monumen ini. Hal ini sebagai bentuk apresiasi dan mengenal Borobudur, serta berperan dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia di Borobudur, Indonesia.

Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Borobudur

Candi Borobudur adalah candi Buddha Mahayana, dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan bentuk arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia adalah pemujaan leluhur dan konsep agama Buddha untuk mencapai Nirvana. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat stupa besar, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur or Barabudur
is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.



Chandi Borobudur, adalah candi megah dan kurang dikenal, gunung kebajikan, pertama adalah lanskap, yang lebih dari seribu tahun yang lalu, bertemu mata mereka yang datang berziarah ke sini untuk mencari kedamaian batin yang semua penganut Buddha bercita-cita.

Borobudur adalah monumen terbesar di dunia. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

arisguide
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.

Gandhawyuha Borobudur


Selamat datang di Chandi Borobudur yang merupakan salah satu bangunan suci agama Buddha sebagai situs Warisan Budaya Dunia. Borobudur dan kawasannya memiliki makna luhur dan bersejarah bagi masyarakat Indonesia, sehingga semua mata terkesima dengan kemegahan dan keindahan bangunan ini. Pemerintah Indonesia telah menetapkan Chandi Borobudur sebagai cagar budaya yang memiliki nilai sejarah tersendiri sebagai daya tarik wisata utama, dan menjadi destinasi wisata prioritas bagi pengunjung nusantara dan juga mancanegara.

Chandi Borobudur dan kawasannya telah menarik antusiasme yang luar biasa untuk berwisata dan berkunjung dalam wisata tematik, untuk mengenal sejarah, arsitektur dan seni rupa bangunan ini. Menikmati kemegahan dan keindahan arsitektur Borobudur, merupakan bentuk apresiasi dan partisipasi dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur, bersama Pamong Carita.

Pamong Carita yang ramah akan menemani dengan memberikan narasi dan penjelasan serta memperkenalkan 'Upanat'. Yaitu alas kaki khusus yang dipakai saat mengunjungi teras-teras melalui koridor dengan rangkaian galeri panel relief, menuju ke puncak teras atas berbentuk lingkaran dengan deretan stupa di Candi Borobudur.

Berwisata bersama Pamong Carita, mengenal Borobudur dan sekitarnya, mendalami narasi sejarah, arsitektur dan seni rupa warisan budaya leluhur Borobudur pada masa Jawa Kuno. Menelusuri beberapa sumber narasi tentang keberadaan sejarah awal mula Borobudur.

Seni ukir dinding dan langkan Borobudur
Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Relief-relief ini sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun dalam kesenian dunia agama Buddha. Keindahan seni ukir salah satunya adalah relif-relief Gandawyuha pada dinding Borobudur. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur merupakan candi Buddha Mahayana, kemegahan dan keunikan arsitektur serta keindahan seni rupa yang ditampilkan Borobudur terpampang pada dinding dan langkan yang sangat indah, serta mempunyai nilai seni yang tinggi. Ukiran yang terpahat pada dinding Borobudur, salah satu cerita relief yang sangat bermakna bagi umat Buddha adalah cerita tentang perjalanan hidup seorang pemuda bernama Sudhana yang diambil dari teks Gandawyuha.

Gandhawyuha

Kitab/teks Gandhawyuha atau disebut Gaṇḍavyuhasutra merupakan salah satu teks/kitab utama dalam tradisi Mahayana yang disusun di Nepal. Teks ini merupakan bagian akhir dan puncak dari Avatamsakasutra, yaitu kumpulan teks yang menjelaskan tahapan jalan Bodhisattva. Avatamsaka adalah pemikiran dasar dalam agama Buddha, yang menggabungkan pemikiran aliran awal Mahayana dan Yogacara.

Pada versi kitab/manuskrip di Chandi Borobudur diketahui bahwa naskah Gandhavyuha masih terpisah dari koleksi sebagian besar kitab yang ada dan terpahat di dinding panel relief Borobudur. Dinasti/wangsa Sailendra di Jawa pada masa dibangunnya Chandi Borobudur nampaknya mempunyai keterkaitan yang erat dengan jantung perkembangan filsafat Buddha di India timur laut, seperti Nalanda dan barangkali melalui kontak inilah muncul dinasti-dinasti tersebut. Sutra tersebut mungkin telah sampai ke Jawa, yang jelas sangat dihormati dan dijunjung tinggi.

Keindahan seni ukir salah satu Relif Gandawyuha dinding Borobudur. Samadhi Buddha di Taman Jeta di Sravasti.

Relief Gandawyuha

Gandawyuha merupakan gambaran kisah yang diceritakan pada bab terakhir Avatamsaka Sutra, yaitu kitab yang berisi kisah atau cerita tentang petualangan seorang pemuda bernama Sudhana, yang penuh dengan semangat dan tidak mengenal lelah dalam pencariannya untuk memperoleh Kebijaksanaan Sempurna Tertinggi.

Kisah/cerita yang digambarkan dalam dinding relief Borobudur berdasarkan kitab suci Buddha Mahayana yang berjudul Gandawyuha, dan pada bagian penutup cerita berdasarkan kitab/teks lain yaitu Bhadracari.

Kisah seorang pemuda yang bernama Sudhana ini meliputi dua galeri, yaitu galeri ketiga dan keempat, serta separuh galeri kedua yang berjumlah seluruhnya 460 pigura/panel relief. Merupakan deretan panel relief yang menghiasi dinding Borobudur pada lorong ke 2 yang menceritakan tentang kisah perjalanan seorang pemuda bernama Sudhana dalam usahanya mencari Ilmu Hakiki, Kebenaran Sejati.

Tokoh utama dalam cerita ini adalah Sudhana, seorang pemuda anak saudagar yang sangat kaya raya, digambarkan pada panel relief baris ke-16. Kisah/cerita pada 15 panel relief sebelumnya merupakan sebuah prolog, yaitu kisah tentang keajaiban pada masa samadhi Buddha di Taman Jeta di Sravasti.

Selama dalam pencariannya, Sudhana diceritakan telah mengunjungi tidak kurang dari tiga puluh guru, namun tidak satupun dari mereka yang dapat memuaskannya sepenuhnya. Dalam perjalanannya, Sudhana kemudian diinstruksikan oleh Manjusri untuk bertemu dengan seorang biksu yang bernama Biksu Megasri, dimana dia diberikan doktrin pertama kali.

Saat perjalanannya berlanjut, Sudhana bertemu dengan beberapa guru antara lain Supratisthita, Tabib Megha (Roh Pengetahuan), Bankir Muktaka, Biksu Saradhvaja, Upasika Asa atau disebut dengan (Roh Pencerahan Tertinggi), Bhismottaranirghosa, Brahmana Jayosmayatna, Putri Maitrayani, Biksu Sudarsana, seorang anak laki-laki bernama Indriyesvara, Upasika Prabhuta, Bankir Ratnachuda, Raja Anala, Dewa Siva Mahadeva, Ratu Maya, Bodhisattva Maitreya dan pada akhirnya kemudian kembali ke Manjusri.

Dalam setiap pertemuan dengan para guru, semuanya telah memberikan Sudhana doktrin, pengetahuan dan kebijaksanaan tertentu. Cerita tentang pertemuan dengan guru ditampilkan di galeri ketiga.

Dalam cerita lima belas panel relief sebelumnya membentuk keajaiban yang dihasilkan oleh Samadhi Buddha (meditasi terdalam) pada pertemuan dengan seratus murid di Taman Jeta di Sravasti.

Diceritakan bahwa setibanya ditempat suci yaitu Vichitrasaladhvaya, orang-orang yang berada di kota itu berbondong-bondong keluar untuk mendengarkan suatu pengumuman dari Bodhisattva yang menggambarkan tentang perbuatan luar biasa yang pernah dilakukan oleh Sang Buddha. 

Pada akhirnya setelah pertemuan yang singkat dengan Manjusri, kemudian Sudhana melanjutkan ke tempat kediaman Bodhisattva Samantabhadra, cerita ini digambarkan pada galeri keempat Chandi Borobudur.

Lorong dinding relief Borobudur
Keindahan seni ukir salah satu relif pada dinding Borobudur. Relief dan pola hias Borobudur bergaya naturalis dengan proporsi yang ideal dan selera estetik yang halus. Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Gandavyuha Borobudur

Sudhana

Gandavyuha adalah kisah yang diceritakan dalam bab terakhir Sutra Avatamsaka tentang pengembaraan Sudhana yang tak kenal lelah mencari Kebijaksanaan Sempurna Tertinggi. Ini mencakup dua galeri (ketiga dan keempat) dan juga setengah dari galeri kedua, yang terdiri dari total 460 panel.

Tokoh utamanya, pemuda Sudhana, putra seorang saudagar yang sangat kaya, muncul di panel ke-16. 15 panel sebelumnya merupakan prolog dari kisah keajaiban selama samadhi Buddha di Taman Jeta di Sravasti.
meditasi samadhi terdalam sang Buddha.

Selama pencariannya, Sudhana telah mengunjungi tidak kurang dari tiga puluh guru, namun tidak satupun dari mereka yang benar-benar dapat memuaskannya. Dia kemudian diinstruksikan oleh Manjusri untuk menemui biksu Megasri, di mana dia diberi doktrin pertama.

Saat perjalanannya berlanjut, Sudhana bertemu dengan Supratisthita, tabib Megha (Roh Pengetahuan), bankir Muktaka, biksu Saradhvaja, upasika Asa (Roh Pencerahan Tertinggi), Bhismottaranirghosa, Brahmana Jayosmayatna, Putri Maitrayani, biksu Sudarsana, dan anak laki-laki bernama Indriyesvara, sang upasika Prabhuta, bankir Ratnachuda, Raja Anala, dewa Siva Mahadeva, Ratu Maya, Bodhisattva Maitreya dan kemudian kembali ke Manjusri. Setiap pertemuan telah memberikan Sudhana doktrin, pengetahuan, dan kebijaksanaan khusus. Pertemuan-pertemuan ini ditampilkan di galeri ketiga.

Lima belas relief sebelumnya merupakan keajaiban yang dihasilkan oleh samadhi (meditasi terdalam) Sang Buddha pada kumpulan seratus siswa di Taman Jeta di Sravasti. Setibanya ditempat suci Vichirasaladhvaya, penduduk kota berbondong-bondong keluar untuk mendengarkan Bodhisattva menjelaskan perbuatan menakjubkan yang dilakukan oleh Sang Buddha. Setelah pertemuan singkat dengan Manjusri, Sudhana melanjutkan perjalanan ke kediaman Bodhisattva Samantabhadra (galeri keempat Chandi Borobudur).

Sudhana Gandawyuha
Sumber: Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide.

Lorong dinding relief Cerita Borobudur

Keindahan seni ukir relief cerita Borobudur di dinding-dinding dan pagar langkan. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Teknik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.



Berwisata dan berkunjung dengan tujuan untuk mengenal Borobudur lebih dekat, mempelajari sejarahnya, mengikuti wisata tematik dan menjelajahi Borobudur sebagai bangunan suci Budha adalah sesuatu yang sangat istimewa, mengagumi kemegahan dan keindahan nilai seni arsitektur, merupakan suatu bentuk Sebagai apresiasi dan turut serta melestarikan dan melindungi Borobudur yang merupakan situs warisan budaya dunia, Chandi Borobudur merupakan monumen terbesar di dunia.

Dalam penuturan sejarah Borobudur, ukiran panel relief yang terpahat pada dinding kaki candi disebutkan dalam teks Karmawibhangga, mengenai persembahan alas kaki yang disebut 'Upanat' kepada para brahmana.

Upanat Borobudur

Pemberian alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber:  Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.





Upanat Borobudur
Salah satu relif dinding kaki candi dalam teks Karmawibhangga, tentang persembahan alas kaki dengan nama 'Upanat', alas kaki yang dipersembahkan kepada Brahmana, agar mendapatkan pahala dan kemakmuran dalam kehidupan. Sumber: Balai Konservasi Borobudur. Teknik Kepemanduan Candi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Menjelaskan bahwa 'Upanat' adalah alas kaki yang digunakan ketika mengunjungi teras Candi Borobudur. Kunjungan ini bertujuan untuk lebih mengenal Borobudur, mempelajari sejarahnya, mengikuti tur tematik serta mengagumi kemegahan dan seni rupa monumen ini. Hal ini sebagai bentuk apresiasi dan mengenal Borobudur, serta berperan dalam menjaga dan melindungi situs warisan budaya dunia di Borobudur, Indonesia.

Baca narasi dan materi lengkap tentang Chandi Borobudur dengan berkunjung dan jadikan wisata Anda semakin menyenangkan, jelajahi lebih detail narasi tematik budaya Borobudur bersama Pamong Carita. Membaca menjadi lebih menyenangkan, menggali narasi lebih detail dan membaca dalam bahasa Inggris memang menyenangkan dan juga terkesan sangat menarik untuk diterjemahkan ke dalam bahasa yang mudah dan fleksibel, dapatkan bacaan detail di Welcome to Borobudur Temple, the fabric of life in the Buddhist culture. Jelajahi, kagumi keindahan seni rupa dalam gambar dan foto di PHOTO IMAGE BOROBUDUR.

Borobudur

Candi Borobudur adalah candi Buddha Mahayana, dibangun pada abad ke-9 pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra, candi ini dirancang dengan bentuk arsitektur Buddha Jawa, yang memadukan budaya asli Indonesia adalah pemujaan leluhur dan konsep agama Buddha untuk mencapai Nirvana. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur atau Barabudur merupakan candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-9, terdiri dari sembilan teras bertingkat, enam teras persegi, dan tiga teras melingkar, di atasnya terdapat stupa besar, dikelilingi oleh 72 stupa dan dihiasi 2.672 panel relief dan 504 arca Buddha. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

Chandi Borobudur or Barabudur
is a 9th–century Mahayana Buddhist temple, which consists of nine stacked platforms, six square and three circular, topped by a central dome, surrounded by 72 stupas and decorated with 2,672 relief panels and 504 Buddha statues. Source: Guidance Technique Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.


Chandi Borobudur, adalah candi megah dan kurang dikenal, gunung kebajikan, pertama adalah lanskap, yang lebih dari seribu tahun yang lalu, bertemu mata mereka yang datang berziarah ke sini untuk mencari kedamaian batin yang semua penganut Buddha bercita-cita.

Borobudur adalah monumen terbesar di dunia. Sumber: Tehnik Kepemanduan Chandi Borobudur arisguide. Foto arisguide.

arisguide
Sangat menyenangkan dalam perjalanan bait suci bersama saya.

Relief Story of Lalitavistara

W elcome  to  Borobudur, one of the sacred buildings of Buddhism as a World Cultural Heritage site. The splendor and beauty of Borobudur has...